OTTAWA, bhayaksa.net — Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Kanada dilaporkan mengalami guncangan hebat. Ketegangan ini dipicu oleh lembar fakta resmi dari Washington yang menuduh Ottawa berupaya melakukan intervensi politik terhadap proses Pemilu Paruh Waktu (midterm elections) di Amerika Serikat. Menanggapi klaim sepihak tersebut, jajaran tertinggi pemerintah Kanada langsung merilis bantahan keras demi menjaga kedaulatan negara mereka.
Sengketa Tarif Dagang dan Gejolak Referendum Alberta
Faktor utama yang melatarbelakangi kerenggangan hubungan bilateral ini bermula sejak periode baru administrasi Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif dagang yang sangat tinggi terhadap komoditas asal Kanada. Guna melindungi sektor perekonomian domestiknya, Kanada merespons secara terbuka lewat serangkaian kampanye publik dan penerapan tarif balasan yang agresif.
Kondisi geopolitik di kawasan tersebut semakin sensitif pasca-pelaksanaan referendum di provinsi Alberta, Kanada, pada Senin, 19 Oktober 2026. Agenda pemungutan suara terkait wacana pemisahan diri Alberta dari Kanada tersebut akhirnya gagal karena mayoritas warga memilih untuk tetap bergabung. Namun, situasi memanas setelah muncul laporan bahwa sejumlah faksi separatis lokal di wilayah tersebut sempat mencari dukungan politik dari pihak administrasi Trump sebelum pemungutan suara digelar.
Runtutan Diplomasi Panas Washington dan Ottawa
Guna meredam gesekan politik yang lebih luas menjelang Pemilu Paruh Waktu AS, kementerian luar negeri Kanada (Global Affairs Canada) bergerak cepat pada Selasa, 20 Oktober 2026 dengan menerbitkan panduan internal. Melalui memo tersebut, seluruh korps diplomatik Kanada yang bertugas di AS diinstruksikan untuk membatasi interaksi langsung, menghindari pertemuan formal, serta tidak berfoto bersama dengan para kandidat pemilu AS guna mencegah timbulnya kesalahpahaman interpretasi politik.
Namun, situasi berbalik memanas pada Rabu, 21 Oktober 2026 ketika Kedutaan Besar AS di Ottawa secara terbuka merilis lembar fakta (fact sheet) resmi. Dokumen tersebut memuat tuduhan bahwa manuver politik para pejabat Kanada dalam menentang kebijakan tarif dagang Trump, agenda pertemuan bilateral tertentu, serta penyebaran iklan anti-Trump di ruang publik dinilai sebagai bentuk upaya sistematis untuk memengaruhi opini pemilih di AS. Duta Besar AS untuk Kanada, Pete Hoekstra, menegaskan bahwa Washington tengah mengevaluasi pergerakan tersebut dengan sangat serius.
Respons dari pejabat daerah Kanada pun langsung bergulir pada Kamis, 22 Oktober 2026. Premier Ontario, Doug Ford, menggelar konferensi pers bersama di Ottawa dan menegaskan netralitasnya. “Saya sama sekali tidak memiliki ketertarikan untuk mencampuri urusan pemilu Amerika,” ujar Ford seraya menambahkan bahwa fokus utamanya saat ini berpusat pada stabilitas ekonomi daerah. Pada hari yang sama, Menteri Perindustrian Kanada, Mélanie Joly, turut memberikan pernyataan singkat kepada media yang menyatakan bahwa seluruh poin tuduhan dalam lembar fakta AS tersebut sama sekali tidak benar.
Puncak ketegangan ini dijawab langsung oleh Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, saat memberikan keterangan pers kepada para wartawan di Ankara pada Jumat, 23 Oktober 2026. Carney menegaskan kedaulatan politik negaranya serta membantah adanya motif intervensi terhadap urusan domestik AS. “Tidak ada dasar sama sekali dalam klaim tersebut. Kami tidak memiliki niat untuk mencampuri proses demokrasi mereka,” tegas Carney. Ia juga menggarisbawahi bahwa Kanada tetap memegang teguh independensinya dan tidak akan pernah menjadi bagian dari geopolitik AS.
Upaya Meredam Dampak Perekonomian Lintas Batas
Hingga saat ini, situasi di perbatasan kedua negara masih berjalan normal, namun koordinasi tingkat tinggi antar-menteri luar negeri terus diupayakan guna mencegah dampak buruk terhadap sektor ekonomi dan kemitraan strategis. Isu yang berkembang murni berakar dari perbedaan persepsi atas respons kebijakan tarif ekonomi makro Kanada yang diinterpretasikan oleh administrasi Washington sebagai bentuk intervensi opini menjelang pemungutan suara pemilu. Kedua negara kini fokus menjaga agar jalur perdagangan utama tetap aman dari dampak kisruh politik ini.
Pewarta: Mrs.Thiti Angelica
Editor: 𝚃𝚒𝚖 bhayaksa.net
