IMG_20260826_235128

Bambang adalah seorang staf administrasi yang rajin, namun sialnya dia memiliki satu musuh bebuyutan: fitur pengoreksi kata otomatis (autocorrect) di ponselnya. Hari itu, suasana kantor sangat tegang. Bos besar mereka, Pak Broto—pria berkepala botak plontos yang sangat jarang tersenyum—sedang memimpin rapat evaluasi tahunan. Sial bagi Bambang, penyakit ambeiennya sedang kambuh parah. Dia tidak bisa duduk dengan tenang dan terus gelisah di kursinya.

Melihat Bambang yang gelisah seperti cacing kepanasan, Pak Broto menegur, “Bambang! Kamu kenapa geser-geser pantat terus? Gak fokus sama presentasi saya?”

Bambang yang panik langsung mengetik pesan WhatsApp ke grup teman-teman terdekatnya di kantor yang berisi tiga orang: Joko, Siti, dan Sri. Niat hati Bambang ingin mengetik: “Aduh guys, ambeien gue kambuh parah nih. Duduk rasanya kayak di atas bara api. Pengen ijin pulang duluan rasanya.”

Namun, karena jarinya gemetar menahan perih dan mata kirinya melirik Pak Broto, jempol Bambang menekan tombol kirim tanpa memeriksa kembali teksnya. Fitur otomatis jahanam di HP-nya telah mengubah kalimat itu menjadi: “Aduh guys, ambisi gue kambing parah nih. Duduk rasanya kayak di atas paha bos. Pengen cium pulang duluan rasanya.”

Mengerikannya lagi, Bambang salah pencet. Pesan itu masuk ke Grup Resmi WhatsApp Kantor yang anggotanya berisi seluruh karyawan, termasuk Pak Broto dan jajaran Direksi.

Ting! Ting! Ting!

Handphone semua orang di ruang rapat berbunyi serentak. Pak Broto menghentikan presentasinya, membaca pesan tersebut, dan wajahnya langsung merah padam seperti kepiting rebus. Beliau menatap Bambang dengan tatapan yang bisa melelehkan besi baja. “Bambang… Kamu mau cium siapa tadi? Dan paha siapa yang kamu billing dudul?”

Joko dan Siti yang langsung sadar situasi, buru-buru menutup mulut mereka rapat-rapat. Wajah mereka memerah, urat leher mereka keluar, dan tubuh mereka bergetar hebat. Mereka berada di fase menahan tawa yang luar biasa hingga perut mereka kram.

Bambang yang baru sadar langsung melihat layar ponselnya. Seketika itu juga, jiwanya serasa terbang meninggalkan raga. “Ma-maaf Pak! Itu salah ketik otomatis! Maksud saya ambeien saya kambuh, bukan ambisi kambing!” teriak Bambang panik sambil berdiri spontan.

KREEEKKK!

Karena berdiri terlalu cepat, celana kerja Bambang yang sudah agak lapuk robek tepat di bagian belakang. Pertahanan Joko dan Siti runtuh. Mereka langsung jatuh dari kursi, berguling di lantai sambil memegangi perut, kehabisan napas karena tertawa tanpa suara. Pak Broto hanya bisa memijat dahinya yang silau, lalu berkata lirih, “Bambang… pulang kamu. Obati ‘ambisi kambingmu’ itu.”

Keesokan harinya, Bambang tetap masuk kerja karena hari itu ada agenda sangat penting: rapat besar bersama klien dari Jepang. Demi menyelamatkan masa depan bokongnya yang masih perih, Bambang terpaksa membawa bantal berbentuk donat yang bolong di tengahnya.

Namun, karena trauma dengan insiden celana robek kemarin, Bambang memutuskan untuk tetap berdiri tegak selama dua jam penuh saat mempresentasikan laporan di depan para investor Jepang tersebut, tanpa berani duduk sekalipun. Dia menahan semua rasa sakitnya demi profesionalisme kerja.

Saat jam istirahat setelah rapat itu selesai, Bambang duduk lemas di kantin menggunakan bantal donatnya. Di seberang meja, Joko dan Siti masih sesekali menutup mulut menahan tawa mengingat kejadian kemarin.

Bambang menghela napas panjang, menatap kopinya, lalu berkata dengan nada yang mendadak puitis, “Kalian tahu apa filosofi dari ambeien? Penyakit ini mengajarkan kita tentang kerendahan hati. Selama ini, kita di kantor sibuk mengejar jabatan, naik pangkat, dan duduk di kursi yang lebih empuk. Kita mengira kebahagiaan itu ada pada ‘posisi’. Tapi begitu bagian tubuh paling bawah ini sakit, barulah gue sadar: seempuk apa pun kursinya, kalau dirimu sendiri belum berdamai dengan beban yang kamu bawa, duduk itu tetap akan terasa menyiksa.”

Siti yang tadinya mau menyuap makanan langsung tertegun.

“Kita sering memaksakan diri bekerja melampaui batas, menahan panggilan alam demi apa yang kita sebut ‘profesionalisme’. Kita lupa merawat aset paling berharga yang Tuhan titipkan: diri kita sendiri,” lanjut Bambang. “Lalu soal ‘ambisi kambing’ kemarin… Mungkin jempol gue salah pencet, tapi alam bawah sadar gue sedang jujur. Di dunia kerja ini, kalau kita terlalu buta mengejar ambisi tanpa memakai logika dan nurani, kita cuma akan jadi seperti ‘kambing’—berisik, gampang disetir orang lain, dan akhirnya dituntun menuju tempat penjagalan bernama stres berat.”

Suasana meja kantin yang tadinya penuh tawa mendadak hening. Tiba-tiba, sebuah suara berat menginterupsi dari belakang mereka. “Sebuah sudut pandang yang sangat menarik, Bambang.”

Pak Broto berdiri di sana, memegang segelas teh hangat. Wajahnya yang biasanya sekaku robot, kini melunak. Beliau berjalan mendekat dan menepuk pundak Bambang pelan.

“Saya minta maaf kalau kultur kerja di divisi kita terlalu menuntut sampai kamu lupa merawat kesehatan. Pesan filosofimu tadi mengingatkan saya, bahwa seorang pemimpin yang baik bukan yang sukses membuat stafnya duduk diam di kursi seharian, tapi yang bisa memastikan semua stafnya bekerja dengan nyaman dan pulang dalam keadaan sehat,” ujar Pak Broto tulus.

Pak Broto kemudian tersenyum—sebuah pemandangan langka. “Barusan saya dapat kabar dari ruang depan. Rapat tadi sukses besar. Klien Jepang sangat terkesan dengan presentasimu. Mereka mengira kamu berdiri tegak selama dua jam tanpa duduk sebagai bentuk dedikasi dan rasa hormat yang tinggi kepada mereka. Jadi, mulai besok, divisi kita akan menerapkan sistem kerja yang lebih fleksibel. Dan untuk kamu Bambang, saya izinkan bekerja dari rumah sampai kamu benar-benar sembuh.”

Bambang terharu, matanya berkaca-kaca. Rasa malu dan sakit yang dialaminya kemarin ternyata berbuah manis, tidak hanya bagi dirinya yang mendapatkan waktu untuk pulih, tetapi juga membawa perubahan budaya kerja yang lebih sehat bagi seluruh teman di kantornya.


Karya: bhayaksa.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *