Oplus_131072
PONTIANAK, bhayaksa.net— Kreativitas para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sukses menyulap peta persaingan kuliner malam di Kota Pontianak menjadi jauh lebih hidup dan menarik. Kawasan trotoar Jalan Gajah Mada, Jalan Putri Candramidi (Podomoro), hingga lorong-lorong niaga lama di Pasar Rakyat Tengah kini bertransformasi menjadi destinasi berburu night street food modern yang selalu diserbu anak muda untuk nongkrong sambil healing tipis-tipis.
Menu paling juara yang ramah di kantong adalah tren Nasi Telur dadar kecap bawang di sepanjang koridor Jalan Gajah Mada. Cuma modal Rp12.000 sampai Rp18.000 saja per porsi, kuliner sederhana ini terbukti ampuh menarik minat pasar secara masif setiap malamnya.
Berdasarkan hasil kunjungan langsung dan wawancara reporter bhayaksa.net, Mustalim, kepada salah satu pengunjung di lokasi, menu komoditas ini dinilai memiliki kekuatan rasa yang khas.
“Rasa kuah kecap bawangnya itu meresap banget sampai ke dalam telurnya yang setengah matang. Pas diaduk sama nasi hangat, rasanya pecah banget di mulut! Harganya murah, tapi kualitas rasanya bener-bener gak murahan,” ujar Rian (22), seorang mahasiswa lokal saat berbincang dengan Mustalim di kawasan Gajah Mada.
Transformasi ruang publik yang ciamik juga terlihat di Lorong Toko Nusa Indah 2 melalui konsep “Five Alas Street Food”. Area pertokoan yang semula sepi saat malam hari, kini disulap bergaya urban dengan menu andalan Nasi Gulai Tikungan (Gultik). Hidangan berkuah rempah gurih dengan potongan daging sapi empuk atau jeroan ini dipatok seharga Rp15.000 hingga Rp25.000 per porsi.
Menariknya, kawasan lorong gultik ini juga menjadi buruan anak senja untuk berburu foto estetik. Biar hasil fotomu makin ciamik dan instagenic, pengunjung disarankan memanfaatkan pendaran lampu neon hias kuning temaram yang kontras dengan dinding bangunan tua di sekitarnya. Cobalah mengambil sudut bidik low-angle (dari bawah) di antara meja-meja rendah untuk menangkap kesan aesthetic urban street yang kental dan hidup. Sambil berfoto, kamu juga bisa ngemil Chai Kue goreng renyah sebagai menu pendamping gulai.
Bagi pencinta sensasi pedas nampol, tren Sambal Bakar di atas cobek tanah liat panas di kawasan Podomoro menawarkan alternatif makan malam dengan rentang harga Rp20.000 hingga Rp45.000 per paket. Kombinasi rasa pedas yang meletup-letup dengan aroma smoky (asap) khas cobek bakar langsung mencuri perhatian konsumen.
“Pedasnya nagih abis! Bebek bakarnya empuk banget, pas dicocol ke sambal yang masih bergolak di atas cobek panas, rasanya bener-bener berani dan gurih,” kata Amalia (25), salah seorang karyawati swasta saat diwawancarai oleh Mustalim di lokasi.
Untuk meredam sengatan Sambal Bakar Beringas yang membakar lidah, para pedagang di kawasan Podomoro merekomendasikan menu minuman segar yang paling pas, yaitu Es Rujak Jeruk Sambas atau Es Liang Teh Pontianak. Perpaduan rasa asam-manis jeruk lokal berpadu dengan sensasi dingin es batu dinilai sangat ampuh menetralisir rasa pedas di tenggorokan seketika.
Sementara untuk segmen menu berkuah hangat, Bubur Ikan Kakap premium di Jalan Veteran serta menu Kwecap legendaris tetap menjadi buruan utama saat udara malam mulai dingin dengan kisaran harga Rp25.000 hingga Rp50.000 per mangkuk besar. Sektor kuliner legendaris bersertifikasi rasa seperti Mie Tiaw Sapi Apollo (eksis sejak 1968) juga tetap eksis mempertahankan pasarnya di kisaran harga Rp30.000 hingga Rp42.000 per porsi.
Guna mendukung kemudahan transaksi dan memberikan jaminan transparansi harga agar terhindar dari praktik manipulasi tarif (getok harga), hampir seluruh lapak street food malam di koridor utama Kota Pontianak ini telah mengadopsi sistem pembayaran digital berbasis QRIS.
Pewarta: Mustalim
Editor: Tim bhayaksa.net
