Oplus_131072
Bambang, seorang pemuda yang sehari-hari bekerja sebagai pengetik skripsi keliling di sekitaran Sipin, sedang merenungi nasibnya di teras rumah. Di luar, kabut asap sedang pekat-pekatnya. Saking tebalnya abu di udara, Bambang bahkan hampir salah menyuap pisang goreng hangat dengan penghapus karet milik adiknya.
“Dunia ini makin aneh,” gumam Bambang sambil terbatuk kecil. “Hukum dunia makin hari bikin pusing. Kemarin saya ditilang karena lupa menyalakan lampu utama motor di siang bolong yang terik. Padahal matahari di atas kepala sudah secerah masa depan orang kaya!”
Tiba-tiba, dari arah dapur, melangkah keluar pamannya yang bernama Wak Dulah. Wak Dulah ini terkenal sebagai pelopor “Filsafat Warung Kopi” di kampung mereka. Sambil membetulkan letak sarungnya yang agak melorot, Wak Dulah duduk dan langsung menyambar kopi hitam milik Bambang yang belum sempat diminum.
“Kau merenungkan hukum dunia, Mbang? Ah, cetek itu!” kata Wak Dulah setelah menyeruput kopi dengan suara berisik. “Hukum dunia itu masih bisa dinegosiasikan dengan meterai atau wajah memelas. Tapi, kau sudah siap belum menghadapi persidangan Hukum Akhirat?”
Bambang langsung memperbaiki posisi duduknya. “Maksud Wak?”
Wak Dulah menatap langit yang abu-abu dengan pandangan dramatis, mirip aktor sinetron gagal audisi. “Begini, Mbang. Di dunia, kalau kau melanggar lampu merah, kau tinggal pasang muka melas, bilang kalau ibumu sakit, atau pura-pura pingsan. Petugas mungkin kasihan, lalu kau bebas. Itu namanya celah hukum dunia.”
Wak Dulah melanjutkan dengan nada yang naik satu oktav. “Tapi coba bayangkan di Hukum Akhirat nanti! Saat sidang pleno terbesar sejagat raya dimulai, skenarionya beda total. Di sana tidak ada pengacara bayaran. Kau tidak bisa menyuap malaikat dengan sebungkus nasi gemuk atau voucher kuota internet!”
Bambang menelan ludah. “Terus bagaimana, Wak?”
“Nah, di akhirat nanti, mulutmu yang pintar merangkai kata-kata manis di dunia itu langsung di-mute total! Di-banned permanen oleh sistem langit! Yang berbicara sebagai saksi adalah anggota tubuhmu sendiri,” ujar Wak Dulah berapi-api.
Wak Dulah mulai memerankan adegan sidang akhirat secara kocak dengan mengubah suaranya menjadi berat.
“Malaikat bertanya: ‘Wahai Tangan Bambang, apa yang kau lakukan saat kota kita dilanda kabut asap?’ Lalu tanganmu menjawab dengan jujur tanpa sensor: ‘Anu, Yang Mulia Malaikat… Saya dipakai buat nge-scroll media sosial delapan jam sehari sampai jempol kapalan, sementara kitab suci di pojokan kamar sampai berdebu tebal!’“
Bambang langsung menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung, merasa tertampar secara spiritual sekaligus menahan tawa.
“Lalu,” lanjut Wak Dulah, “Malaikat beralih ke kakimu: ‘Wahai Kaki, ke mana kau melangkah?’ Kaki kau menjawab: ‘Saya rajin banget diajak jalan-jalan ke mall dan tempat nongkrong hits, tapi kalau diajak ke tempat ibadah yang jaraknya cuma lima langkah dari rumah, saya mendadak kena penyakit lumpuh layu, Yang Mulia!’“
Bambang tertawa terpingkal-pingkal mendengar peragaan Wak Dulah. Namun, di dalam hatinya ada sesuatu yang bergetar. Kalimat kocak pamannya itu justru menembus ulu hati. Seringkali manusia begitu takut dengan hukum manusia—takut denda, takut dipenjara, takut dinilai buruk oleh sesama—tapi mengabaikan “audit besar-besaran” yang pasti terjadi di akhirat.
“Jadi, kesimpulannya apa, Wak?” tanya Bambang yang sekarang wajahnya jadi lebih serius.
Wak Dulah berdiri, menepuk pundak Bambang dengan gagah. “Kesimpulannya, jadilah orang yang cerdas. Patuhi hukum dunia agar hidupmu tertib dan tidak merepotkan orang lain. Tapi, investasikan saham terbesar hidupmu untuk Hukum Akhirat. Caranya? Selagi mulut belum dikunci, pakai buat berkata baik, bersyukur, dan bantu orang lain yang kesusahan di sekitar kita. Biar nanti pas sidang akhirat, tangan dan kakimu memberikan testimoni bintang lima!”
Bambang terdiam, lalu mengangguk mantap. Kata-kata Wak Dulah yang dibungkus humor segar itu benar-benar membangunkan jiwanya yang sempat layu karena penatnya urusan dunia. Dia langsung mengambil maskernya, berniat membagikan sisa uang jajannya dalam bentuk masker gratis untuk para pekerja jalanan yang masih harus bekerja di luar ruangan di tengah kabut asap.
Sambil melangkah keluar pagar, Bambang berteriak, “Wak! Bambang pergi dulu, mau bikin tangan dan kaki Bambang punya testimoni bagus buat sidang nanti!”
Wak Dulah tersenyum bangga melihat keponakannya, lalu berteriak balik, “Bagus! Tapi jangan lupa, belikan Wak pisang goreng lagi pakai uangmu sendiri, biar timbangan amalmu makin berat hari ini!”
Karya: bhayaksa.net
