Oktober 28, 2026
Oplus_131072

Oplus_131072

Di sebuah kota yang roda pemerintahannya digerakkan oleh birokrasi setengah matang, berdirilah sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama Lembaga Perlindungan Angin Surga (LPAS). Lembaga ini dikepalai oleh Bono si LSM Licik. Bono adalah manusia dengan bakat luar biasa: ia bisa berpidato selama tiga jam tanpa mengatakan apa pun yang substansial, merasa tahu segala hal tentang hukum tata negara padahal membaca buku menu restoran saja sering keliru, dan yang paling hebat, ia sangat lihai memeras serta membuat tameng hukum demi melindungi instansi-instansi pemerintah yang bobrok [3].

Di sisi lain kota, hiduplah Dono si Orang Pandir. Dono adalah tipe manusia yang jika disuruh menyiram tanaman di tengah hujan lebat, dia akan memakai payung agar badannya tidak basah, tetapi tetap menyiram bunganya dengan gayung. Dono kebetulan bekerja sebagai pesuruh serabutan dan merupakan “serekan” (rekan kerja level bawah) di Instansi Pelayanan Publik Kotaโ€”instansi yang kebetulan sedang menggunakan jasa perlindungan dari LPAS.

Lalu, ada Joni si Pers Jujur. Joni adalah wartawan sekujur badan yang malang. Kamera sakunya disatukan oleh selotip, sepeda motornya lebih sering didorong daripada dikendarai, dan ia sudah dikhianati oleh narasumber sebanyak jumlah hari dalam setahun. Namun, Joni tetap rendah hati. Setiap kali idenya dicuri atau berita eksklusifnya dibajak, ia hanya tersenyum sambil memakan mi instan kuah tanpa telur. “Gusti mboten sare,” bisiknya puitis.

Terakhir, di puncak moralitas kota itu, hiduplah Eyang Samudra, sang Orang Bijak. Beliau tegas, adil, janggutnya putih melambangkan kematangan jiwa, dan yang paling penting: beliau tidak mempan disuap, baik pakai proposal proyek maupun martabak telur spesial.


Malapetaka komedi ini dimulai ketika Joni si Pers Jujur menemukan sebuah skandal besar. Instansi Pelayanan Publik Kota ternyata menggunakan seluruh anggaran daerah untuk membeli 500 unit mesin pembuat kopi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), padahal kantor mereka bahkan tidak memiliki aliran listrik yang stabil.

Joni yang rendah hati mendatangi Bono si LSM untuk meminta konfirmasi, mengira Bono adalah pejuang hak rakyat sejati.

“Ah, Bung Joni,” kata Bono sambil membenarkan kerah kemejanya yang mentereng. “Anda ini pers, tapi kurang membaca geopolitik makro-kosmos! Mesin kopi AI itu bukan sekadar alat pembuat kafein, itu adalah stimulus digitalisasi birokrasi terintegrasi! Saya tahu betul, karena saya baru saja menandatangani nota kesepahaman perlindungan reputasi dengan instansi tersebut. Singkatnya, berita Anda itu… hoaks!”

Keesokan harinya, Bono mengkhianati Joni. Ia mencuri draf investigasi Joni, mengubah isinya menjadi rilis media yang menyatakan bahwa “Instansi Pembuat Kopi telah bertindak visioner,” lalu menjual nama Joni seolah-olah sang wartawan sepakat dengan opini tersebut. Joni yang mendapati namanya dicatut hanya bisa mengelus dada di warung kopi. “Ah, mungkin tinta printer saya yang kurang berkah,” gumam Joni pasrah.

Namun, karena LPAS sibuk melindungi instansi tersebut dari jerat hukum, mereka membutuhkan kambing hitam untuk mempertanggungjawabkan hilangnya anggaran yang mendadak kosong. Di sinilah Bono memanfaatkan Dono si Orang Pandir.

Bono mendatangi Dono yang saat itu sedang sibuk menyapu daun gugur dari bawah pohonโ€”langsung dari rantingnya sebelum daun itu sempat jatuh ke tanah.

“Dono,” kata Bono dengan wajah sok tahu yang dibuat-buat serius. “Instansi ini dalam bahaya fluktuasi finansial akibat turbulensi administrasi. Sebagai serekan yang loyal, kamu harus menandatangani dokumen ‘Serekan Berbagi Beban’ ini. Ini demi melindungi martabat tempatmu bekerja!”

Dono mengerutkan kening. “Serekan itu apa, Pak?”

“Serekan itu… hubungan simbiosis mutualisme makro! Intinya, kalau instansi ini aman, kamu dapat pahala. Tanda tangan di sini, pakai meterai yang sudah dijilat.”

Dono, dengan kepolosan yang mendekati kriminal, menandatanganinya tanpa tahu bahwa dokumen itu adalah surat pernyataan bahwa Dono secara pribadi telah menelan dan membawa pulang 500 unit mesin kopi AI tersebut.

Dampak buruk perlindungan bobrok itu langsung menghantam serekannya. Sore itu juga, Dono tidak bisa pulang ke rumah karena gerbang rumahnya disegel oleh vendor mesin kopi. Dono bahkan bingung mengapa di saku celananya tiba-tiba ada tagihan listrik sebesar tiga miliar rupiah. “Wah, hebat,” pikir Dono bangga, “saya sekarang sekaya PLN.”


Kekacauan yang semakin konyol ini akhirnya sampai ke telinga Eyang Samudra. Melihat Joni yang terus dikhianati hingga kurus kering dan Dono yang hampir dipenjara karena kepandirannya, Eyang Samudra menggebrak meja batu di alun-alun kota.

“Cukup!” suara Eyang Samudra menggelegar, membuat burung-burung merpati berhamburan.

Eyang Samudra mengumpulkan warga, membawa Joni yang memegang kamera rusaknya sebagai saksi sejarah, dan menyeret Bono ke depan publik di balai kota. Bono yang tersudut berteriak, “Eyang! Saya ini melindungi instansi demi stabilitas kota! Kalau instansi ini jatuh, nama baik kota kita runtuh! Ini adalah bagian dari rekonsiliasi integratif fungsional struktural!”

“Diam kamu, Bono!” potong Eyang Samudra tegas dan adil. Beliau mengambil sapu lidi milik Dono, lalu menancapkan gagangnya ke tanah.

“Kamu keliru memaknai perlindungan. Memayungi pohon yang akarnya sudah busuk tidak akan membuatnya berbuah. Kamu bukan sedang menjaga stabilitas, kamu sedang menunda ledakan! Kamu menggunakan kata-kata besar hanya untuk menyembunyikan nyali yang kecil dan dompet yang rakus!”

Beliau menunjuk Dono yang sedang kebingungan memegang meterai.

“Dampak paling mengerikan dari bobroknya sebuah lembaga perlindungan adalah terjadinya kiamat kecil bagi serekannyaโ€”orang-orang kecil di lapisan bawah. Instansi yang kamu lindungi tetap tidur di kasur empuk, sementara Dono, si serekan lugu ini, yang harus menanggung abu dari pembakaran dosa-dosa kalian. Kebusukan yang kalian tutupi di atas selalu mengalir ke bawah, menimpa mereka yang tidak punya daya!”

Eyang Samudra kemudian menoleh kepada Joni si Pers Jujur. “And untukmu Joni, ketahuilah. Di dunia yang panggungnya dikuasai oleh orang licik dan penontonnya adalah orang pandir, pers yang jujur akan selalu terlihat seperti orang gila yang berbicara pada dinding. Tapi ingat, sekecil apa pun celah cahaya kebenaran yang kamu bawa, kegelapan yang dilindungi oleh seribu lembaga pun tidak akan pernah bisa memadamkannya.”

Dono yang berdiri di pojokan menyahut spontan, “Betul Eyang! Prangko rasanya agak manis, kalau meterai rasanya agak pahit.” Semua orang di alun-alun menepuk jidat mereka sendiri.


Untuk memastikan Bono si LSM licik jera dan tidak bisa lagi mengulangi perbuatannya, Eyang Samudra menjatuhkan Tiga Pasal Hukuman Konyol yang wajib dijalankan saat itu juga:

  1. Wajib Menjadi Kamus Berjalan Dono: Bono dijatuhi hukuman menjadi asisten pribadi Dono selama satu tahun. Bono dilarang keras menggunakan kata-kata serapan asing yang sok pintar (seperti stabilitas, instansi, integratif, regulasi). Setiap kali Bono kelepasan mengucapkan kata-kata itu, ia wajib membayar denda satu porsi siomay kepada Joni si Pers Jujur. Dalam tiga hari pertama, Joni berhasil menggemukkan badannya karena Bono bolak-balik berteriak frustrasi, “Ini adalah konspirasi… eh, maksud saya, persekongkolan jahat!” yang berujung denda siomay terus-menerus.
  1. Menjadi Operator Mesin Kopi AI Tanpa Listrik: Karena Bono mati-matian membela pengadaan mesin kopi tersebut, ia diwajibkan masuk ke dalam sebuah kotak kayu tiruan mesin kopi raksasa di alun-alun. Setiap pagi, Bono harus menirukan suara mesin (“Bzzzz… klik… grok-grok”) sambil menumbuk biji kopi menggunakan batu kali secara manual, lalu menyodorkannya lewat celah sempit kepada warga yang lewat.
  2. Ujian Membaca Pikiran Dono: Setiap sore, Bono wajib menjawab satu pertanyaan filosofis dari Dono. Jika Bono gagal menjawab atau memberikan jawaban yang berbelit-belit, Dono berhak menyiram kaki Bono dengan air bekas sapuan jalanan. Pada hari pertama, Dono bertanya, “Pak Bono, kalau burung bangau tidur berdiri pakai satu kaki, kaki yang satunya lagi dititipkan ke siapa?” Bono mencoba menjelaskan menggunakan teori anatomi zoologi makro, dan BYUR! Kakinya langsung basah kuyup karena Dono hanya butuh jawaban sederhana: “Dititipkan ke takdir, Pak.”

Kota itu akhirnya belajar satu hal penting dari kepandiran Dono dan kelicikan Bono: bahwa ketika hukum dan perlindungan dijadikan komoditas dagangan untuk membentengi kekuasaan, maka moralitas sedang bertukar tempat dengan lelucon. Lembaga yang bobrok tidak pernah benar-benar melindungi instansi; mereka hanya sedang menimbun utang karma yang tagihannya selalu dikirimkan ke alamat orang-orang kecil yang tidak tahu apa-apa.

Joni si Pers Jujur kini mendapatkan penghargaan dari warga berupa kamera baru tanpa selotip, meskipun ia tetap memilih rendah hati. Tulisannya keesokan hari menjadi viral dengan judul: “Ketika Mulut LSM Licik Disumbat oleh Logika Orang Pandir.”

Eyang Samudra kembali ke pertamaannya sambil meninggalkan pesan terakhir: “Orang yang terbiasa membangun benteng kebohongan untuk melindungi kebusukan, pada akhirnya akan terpenjara di dalam bentengnya sendiri. Dan tidak ada penjara yang lebih menyiksa bagi orang yang merasa paling pintar, selain dipaksa melayani orang yang dianggapnya bodoh.”

Dan Dono? Dono akhirnya paham apa itu serekan. Serekan baginya adalah kawan sejati. Kini, setiap kali ia melihat Bono stres di dalam kotak mesin kopi, Dono akan menyodorkannya segelas kopi yang diaduknya menggunakan gagang sapu dengan penuh kasih sayang. Sebuah akhir yang sangat harmonis sekaligus konyol.

Karya:bhayaksa.net

Editor: Tim bhayaksa.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *