Oktober 28, 2026
oplus_3

oplus_3

MUAROJAMBI, bhayaksa.net—- Apa yang terlintas di pikiran Anda saat membayangkan kantor sebuah perusahaan daerah penyuplai air bersih? Rapi, sibuk, dan responsif? Sayangnya, pemandangan ideal itu kontras dengan kondisi Perumda Tirta Muaro Jambi. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang memegang hajat hidup orang banyak di Kabupaten Muaro Jambi ini kini tengah menjadi buah bibir. Bukan karena prestasinya, melainkan karena tata kelolanya yang diduga sedang oleng dan tidak sehat.

Isu tak sedap ini menyeruak setelah kondisi fasilitas kantornya terbongkar ke publik. Mulai dari urusan estetika gedung yang telantar, pelayanan loket yang kerap “mati suri”, hingga aroma administrasi internal yang diduga sengaja ditutupi rapat-rapi. Rentetan rapor merah ini memicu desakan kuat agar instansi berwenang segera turun tangan melakukan audit forensik demi menyelamatkan perusahaan berpelat merah ini.

Sisi Luar Mirip Lahan Kosong: Semak Belukar Mengular

Jika Anda berkunjung ke salah satu kantor instalasi cabang Perumda Tirta Muaro Jambi, jangan kaget dengan sambutan pertamanya. Alih-alih halaman yang asri, mata Anda akan disuguhi kepungan rumput liar dan semak belukar yang tumbuh tinggi tidak beraturan. Kondisinya begitu memprihatinkan, bahkan diduga mirip bangunan tua yang sudah lama ditinggalkan penghuninya.

Bukan cuma itu, area parkir kendaraan pun jauh dari kata layak. Tanah yang gersang tampak dipenuhi serpihan batu puing bangunan serta sampah plastik yang berserakan seadanya. Di tengah gersangnya lahan tak terurus tersebut, sebuah sepeda motor operasional tampak diparkir pasrah di atas tanah yang retak. Warga yang melihat kondisi ini mengkritik tajam, menilai ketidakmampuan merawat halaman kantor adalah cerminan awal dari diduga adanya pengabaian aset daerah yang dibiayai uang rakyat.

Interior Horor: Cat Mengelupas dan Kabel Bergelantungan

Melangkah ke bagian dalam, suasananya tidak kalah mengejutkan. Ruang kerja dan pusat pelayanan administrasi yang seharusnya nyaman justru tampak kumuh dan mencekam. Dinding ruangan yang dilapisi cat hijau terlihat kusam, kotor, dan mengelupas hebat di sana-sini.

Lebih ngeri lagi, aspek keselamatan kerja diduga dicoret dari daftar prioritas. Instalasi kabel listrik dan kabel jaringan tampak menjuntai berantakan, saling melilit di dinding tanpa pelindung pengaman. Pemandangan semrawut ini tidak hanya merusak mata, tetapi juga diduga menyimpan bom waktu berupa potensi bahaya kebakaran akibat korsleting listrik.

Kelumpuhan makin terasa di area garda depan (front office). Meja loket utama yang tinggi tampak melompong tanpa ada satu pun petugas yang berjaga. Ruang administrasi di belakangnya pun lengang, hanya menyisakan deretan meja kayu usang dan kursi lipat besi yang berdebu. Papan informasi di dinding pun bersih dari pembaruan data, memperkuat dugaan bahwa kantor Perumda Tirta Muaro Jambi ini diduga berjalan tanpa sistem manajemen pelayanan yang aktif.

Suara Konsumen: “Bayar Ditagih Tepat Waktu, Pelayanan Malah Macet!”

Kondisi kantor yang compang-camping ini dinilai sejalan dengan jebloknya distribusi air bersih ke rumah-rumah warga. Sejumlah pelanggan di wilayah padat seperti Jambi Luar Kota (Jaluko) dan Mendalo mengaku sudah kenyang dengan drama “mati air” yang bisa berlangsung hingga berhari-hari.

“Ini sangat ironis. Kantor luarnya penuh semak, di dalam berantakan, loketnya kosong melompong. Padahal, setiap bulan kami sebagai pelanggan wajib bayar tagihan air tepat waktu. Telat sedikit diancam denda atau putus jalur. Pertanyaannya, uangnya ke mana? Merawat gedung sendiri saja mereka diduga tidak mampu,” keluh seorang warga pelanggan dengan nada kesal.

Kekecewaan senada juga datang dari tokoh masyarakat setempat. Menurutnya, pelanggan punya hak atas kenyamanan dan kelancaran air bersih. Jika lingkungan kantornya saja kumuh, wajar jika masyarakat berasumsi tata kelola keuangan di tingkat atas diduga mengalami kesemrawutan yang sama.

Benang Kusut Administrasi dan Dalih Keterbatasan Anggaran

Para pengamat kebijakan publik dan pihak legislatif menilai kerusakan fisik kantor hanyalah puncak dari gunung es. Masalah yang jauh lebih besar diduga berakar pada carut-marutnya administrasi keuangan di jajaran manajemen atas.

Dugaan kesemrawutan ini dinilai berbanding lurus dengan lambatnya respons penanganan pipa bocor hingga diduga tidak transparannya laporan laba-rugi perusahaan kepada publik. Hal ini membuat fraksi-fraksi di DPRD Kabupaten Muaro Jambi vokal mendesak pemerintah daerah melakukan evaluasi total dan merombak struktur direksi yang diduga gagal.

Di sisi lain, manajemen Perumda Tirta Muaro Jambi yang dikonfirmasi berdalih bahwa keterbatasan anggaran menjadi batu sandungan utama. Mereka mengklaim arus kas perusahaan sangat mepet, sehingga prioritas utama anggaran dialihkan sepenuhnya untuk membiayai perbaikan teknis di lapangan, seperti mesin pompa intake yang aus dan pipa distribusi yang bocor di jalur utama. Langkah ini diklaim demi menjaga air tetap mengalir ke masyarakat, meskipun harus mengorbankan biaya perawatan gedung kantor yang kini diduga telantar.

Kini, keputusan ada di tangan Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi sebagai pemilik modal. Publik menanti ketegasan penjabat bupati untuk melakukan audit independen. Jika dugaan salah urus ini terbukti, perombakan total jajaran direksi menjadi harga mati demi memulihkan hak pelayanan air bersih yang layak bagi masyarakat Kabupaten Muaro Jambi.

Pewarta: Harvery.

Editor: Tim bhayaksa.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *