Oplus_131072
LEMBATA, bhayaksa.net— Aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali mengalami eskalasi. Gunung api aktif tersebut dilaporkan kembali meletus dengan disertai lontaran lava pijar pada Minggu, 20 September 2026 pukul 18.34 WITA.
Berdasarkan laporan kronologi dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Ile Lewotolok, letusan ini memicu luncuran lava pijar panas sejauh 400 meter meluncur menuju sektor tenggara dari arah bibir kawah utama. Erupsi tersebut juga menghasilkan kolom abu vulkanik setinggi 400 meter di atas puncak gunung. Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal yang bergerak condong ke arah barat.
Pernyataan resmi mengenai situasi erupsi ini dikonfirmasi langsung oleh Petugas Pos PGA Ile Lewotolok, Stanislaus Ara Kian, dalam laporan tertulisnya pada Minggu, 20 September 2026. “Teramati letusan dengan tinggi 400 meter dan warna asap putih dan kelabu,” terang Stanislaus dalam rilis resmi otoritas pemantau gunung api. Ia menambahkan bahwa hingga Minggu malam, aktivitas vulkanik Ile Lewotolok masih berada pada Level II atau status Waspada.
Dampak sebaran material letusan ini dirasakan paling parah oleh warga lereng kaki gunung, salah satunya di Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata. Erupsi beruntun ini memicu kerusakan lingkungan serius bagi komoditas pertanian dan kelangsungan ribuan hewan ternak warga setempat.
Kepala Desa Jontona, Nikolaus Ake Watun, memberikan pernyataan resmi saat dihubungi oleh media pada Minggu, 20 September 2026 terkait kondisi memprihatinkan warganya. Nikolaus memaparkan bahwa abu vulkanik pekat dan gas belerang telah merusak total lahan pertanian hijau serta mencemari fasilitas bak penampungan air minum warga.
“Pakan ternak sudah terkontaminasi abu vulkanik, belerang, dan gas beracun,” tegas Nikolaus dalam pernyataan resminya pada Minggu (20/9/2026). Akibat paparan racun tersebut, ribuan hewan ternak peliharaan penduduk—terdiri dari sapi, kambing, dan babi—mulai kehilangan nafsu makan serta mengalami penurunan kondisi kesehatan yang drastis. Masalah kontaminasi ini memicu kekhawatiran besar di kalangan peternak lokal karena rumput sebagai tumpuan pakan utama tertutup debu silika yang tajam dan beracun.
Sementara itu, terkait dengan penanganan warga, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lembata, Andris Koban, menyatakan bahwa hingga saat ini pihak pemerintah daerah belum mendirikan posko pengungsian terpusat atau melakukan evakuasi warga secara massal. Berdasarkan hasil kajian tim reaksi cepat di lapangan, material guguran lava pijar sejauh ini dinilai masih berada di zona aman dan belum mengancam area permukiman secara langsung. Kendati demikian, pihak BPBD menegaskan bahwa status kesiapsiagaan tetap berada pada level tertinggi guna mengantisipasi segala potensi perubahan aktivitas vulkanik yang dinamis.
Mengantisipasi ancaman yang terus berkembang, PVMBG mengeluarkan rekomendasi tegas agar masyarakat Desa Jontona dan sekitarnya dilarang keras beraktivitas di dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas gunung. Batasan area bahaya diperluas secara sektoral hingga radius 3 kilometer khusus untuk arah sektor selatan dan tenggara guna menghindari risiko paparan guguran lava panas. Warga yang beraktivitas di luar ruangan diwajibkan menggunakan masker pelindung hidung dan mulut untuk mencegah Infeksi Saluran Penyapasan Akut (ISPA) akibat abu vulkanik.
Pewarta: Susana Emilia Taebenu
Editor: Tim bhayaksa.net
