JAKARTA, bhayaksa.net — Industri perfilman horor Indonesia kembali diguncang oleh pengumuman proyek terbaru dari sutradara kawakan Joko Anwar. Waralaba horor terbesar tanah air ini resmi memulai tahap produksi awal untuk babak pamungkasnya yang bertajuk Pengabdi Setan 3: Origin.
Diproduksi oleh Rapi Films bersama Come and See Pictures, Sky Media, dan Legacy Pictures, film ini menggandeng Barunson E&A—rumah produksi legendaris asal Korea Selatan di balik film pemenang Oscar Parasite—sebagai agen penjualan internasional. Guna menyajikan teror visual yang megah, film ini direkam penuh menggunakan kamera format IMAX dan dijadwalkan rilis serentak di bioskop pada tahun 2027.
Konsep Cerita & Perluasan Mitologi Lintas Benua
Berbeda dengan dua film sebelumnya, Pengabdi Setan 3: Origin dirancang sebagai prekuel mandiri (standalone prequel). Alur ceritanya tidak lagi melanjutkan nasib keluarga Rini di era modern, melainkan melompat mundur melintasi waktu dan dua benua untuk membongkar akar mula kutukan serta asal-usul sekte rahasia. Demi mendukung cakupan sejarahnya yang luas, dialog di dalam film ini akan menggunakan tujuh bahasa berbeda, yaitu Bahasa Indonesia, Alsatian (Alsace), Portugis, Belanda, Jawa, Turki, dan Latin.
Bedah Latar Sejarah: Dari Eropa hingga Pesisir Jawa
Joko Anwar menjembatani jarak ribuan kilometer dan rentang waktu satu abad antara tanah Eropa dan Nusantara melalui konsep migrasi sekte terlarang lewat jalur penjelajahan samudra.
Bagian awal film dibuka di Benua Eropa pada tahun 1518 yang mengangkat peristiwa nyata Wabah Menari Strasbourg (Dancing Plague). Dalam sejarah asli, ratusan orang menari histeris di jalanan tanpa henti selama berhari-hari hingga tewas akibat serangan jantung, strok, dan kelelahan ekstrem. Secara sains, fenomena ini diduga akibat keracunan massal jamur ergot pada gandum atau histeria massal karena kelaparan.
Namun dalam film, Joko Anwar membelokkan peristiwa ini menjadi manifestasi fisik pertama dari kekuatan iblis, di mana fenomena menari massal tersebut digambarkan sebagai bentuk ritual pemanenan jiwa paling murni oleh para penganut bidah (heretics) mula-mula. Ketika otoritas gereja setempat mulai memburu mereka, sekte pemuja kegelapan ini bergerak di bawah tanah dan melarikan diri ke luar Eropa.
Alur kemudian bergeser memasuki abad ke-17 di Pesisir Selatan Jawa melalui jalur kolonialisme. Para pemimpin sekte Eropa dikisahkan menyusup ke dalam kapal-kapal penjelajah Barat seperti Portugis dan Belanda yang berlayar menuju Nusantara demi memburu rempah-rempah. Setibanya di pesisir selatan Jawa—wilayah yang terkenal dengan karakter geografis tebing curam, ombak ganas, dan aura mistis yang pekat—mereka mendirikan sebuah mercusuar berarsitektur gotik kolonial. Secara fisik menara ini memandu kapal, namun secara gaib difungsikan oleh sekte sebagai “menara pemancar spiritual” untuk memanggil entitas kegelapan tertinggi. Di mercusuar inilah sekte Eropa berasimilasi dengan penganut ilmu hitam lokal, yang melahirkan perjanjian darah kuno yang kelak mengikat garis keturunan keluarga “Ibu”.
Silsilah Kelam dan Hierarki Sekte Pemuja Setan
Garis keturunan dan hierarki dalam semesta Pengabdi Setan bermula pada abad ke-16 di Strasbourg, Eropa, yang dipelopori oleh kelompok bernama The Founders (Para Pendiri). Mereka adalah penyembah iblis abad pertengahan yang merumuskan ritual penyerahan jiwa massal lewat kematian fisik yang ekstrem, termasuk melalui fenomena wabah menari. Ketika posisi mereka terancam oleh otoritas agama Eropa, kelompok ini melarikan diri menggunakan kapal pelayaran samudra menuju Nusantara pada abad ke-17 dan membangun markas rahasia di mercusuar pantai selatan Jawa.
Di titik labuh baru ini, sekte Barat berasimilasi dengan penganut ilmu hitam lokal Jawa kuno, melahirkan generasi baru pengikut yang diikat oleh leluhur melalui ikatan darah kuno. Dari asimilasi di abad ke-17 ini pula lahir karakter Darminah dan Batara versi awal yang dikenal sebagai The Immortals (Para Pemanen). Mereka adalah utusan asli sekte yang dianugerahi keabadian lintas zaman. Tugas utama Darminah dan Batara sepanjang berabad-abad adalah mengawasi seluruh keluarga di Nusantara yang terikat kontrak darah, sekaligus memastikan anak terakhir dari hasil perjanjian tersebut lahir dengan selamat untuk diserahkan kembali kepada sekte.
Garis keturunan ini terus berjalan secara rahasia hingga mencapai era modern tahun 1980-an, di mana keluarga Mawarni Suwono atau “Ibu” menjadi korban berikutnya. Karena jeratan kemandulan masa lalu, Ibu dan suaminya terjebak menjadi pihak yang berutang (The Debtors) dan memperbarui kontrak darah kuno yang akarnya sudah tertanam di mercusuar selatan sejak ratusan tahun lalu. Dari rahim Ibu, lahirlah Ian sebagai anak keempat atau anak terakhir, yang dalam hierarki sekte modern diproyeksikan sebagai titisan atau pemimpin baru bagi kelanjutan penyembahan setan di masa depan. Hingga saat ini, jajaran aktor dan aktris yang memerankan karakter-karakter abadi dan leluhur sekte ini masih dirahasiakan rapat-rapat oleh tim produksi untuk menjaga kejutan penokohan selama proses syuting.
Estetika Visual Premium dan Teror Audio Spasial 3D
Joko Anwar kembali mengumpulkan para maestro sinema langganannya untuk menggarap visual premium standar internasional. Sinematografer legendaris Ical Tanjung bertanggung jawab mengeksplorasi penuh kamera format IMAX dengan teknik pencahayaan naturalistik yang minim. Ia hanya mengandalkan cahaya obor, lilin, dan lampu mercusuar demi menangkap lanskap tebing pantai selatan dan interior gotik yang kelam di layar raksasa.
Sementara itu, Dennis Sutanto bertindak sebagai Production Designer yang membangun set rekonstruksi jalanan Strasbourg abad ke-16 dan interior mercusuar abad ke-17, lengkap dengan tangga melingkar sempit (claustrophobic) dan dinding batu tebal yang lembap berdasarkan riset sejarah yang presisi. Aspek penampilan karakter digarap oleh Costume Designer Gemma Furia, yang merancang perpaduan busana kontras lintas kebudayaan, mulai dari baju zirah dan gaun petani Prancis abad pertengahan hingga pakaian adat Jawa kuno abad ke-17 dengan sentuhan magis yang misterius.
Departemen suara dalam film ini juga dirancang untuk memanipulasi psikologis penonton secara ekstrem melintasi dua zaman di studio IMAX. Penтация musik latar digarap oleh kolaborasi Aghi Narottama dan Bemby Gusti. Untuk porsi Eropa, mereka menggunakan instrumen klasik abad pertengahan seperti lute (kecapi kuno) dan hurdy-gurdy, yang dipadukan dengan paduan suara (choir) Latin kuno yang mengintimidasi. Saat cerita berpindah ke tanah Jawa, musik bertransisi menggunakan bunyi gamelan kuno bernada slendro yang dirusak (distorted) dan menyatu dengan deru konstan ombak laut selatan. Desain suara 3D IMAX ini dirancang mengepung penonton dengan suara derap kaki ratusan orang menari, bisikan 7 bahasa di sekeliling studio, hingga detak jantung yang melambat agar memberikan sensasi terjebak di tengah kepungan sekte.
Prospektus Analisis Kritis: Potensi Besar vs Risiko Narasi
Secara kritis, film ini memiliki potensi keunggulan masif pada ambisi sinematik lintas batasnya. Lompatan mitologi horor lokal ke ranah historical cosmic horror internasional memberikan penyegaran masif dan memisahkan waralaba ini dari stereotipe horor domestik biasa. Kualitas produksi premium format IMAX, sinematografi gotik pekat, serta dukungan distribusi global memberikan jaminan standar estetika yang sangat tinggi.
Namun, film ini juga menghadapi tantangan besar pada risiko narasi yang terlalu padat. Memadukan dua benua, dua abad berbeda, tujuh bahasa, sejarah pendirian sekte, serta konklusi teori dari dua film sebelumnya berisiko membuat alur terasa tumpang-tindih atau membingungkan jika tidak dieksekusi dengan rapi. Selain itu, film ini memikul beban ekspektasi tinggi untuk menjawab teori konspirasi yang sudah matang di kepala penggemar selama bertahun-tahun, yang bisa menjadi bumerang tersendiri jika konklusi asal-usul sekte ini tidak se-ekstrem ekspektasi kolektif penonton.
Pewarta: Timothy
Editor: Tim bhayaksa.net
