Oplus_131072
Di bawah terik matahari siang yang membakar, Pak Kafi berjalan dengan dada membusung bak pahlawan perang. Di belakangnya, Bedu mengekor sambil menggeret tas raksasa yang tingginya hampir menyamai badannya sendiri. Keringat Bedu mengucur deras bagai keran bocor.
”Pak Kafi, pelan-pelan dong! Ini tas isinya batu bata atau beban hidup sih? Bahu saya sudah mau copot!” jerit Bedu sambil terengah-engah.
Pak Kafi menengok sebentar, tersenyum sok bijak, lalu menepuk dadanya. “Sabar, Bedu. Perjalanan ribuan mil dimulai dari satu langkah kaki. Kita ini kafilah dagang yang tangguh. Jangan cengeng menghadapi sedikit ujian!”
Baru saja kata-kata bijak itu selesai diucapkan, dari balik semak-semak meloncatlah Gugun. Pemuda jahil desa itu muncul mengenakan bando telinga anjing berwarna hitam lengkap dengan toa plastik di tangannya. Tanpa ba-bi-bu, Gugun menempelkan toa ke mulutnya dan melontarkan gonggongan nyaring.
”Guk! Guk! Guk! Woi, Kafi! Utang gorengan tiga biji di warung Bu Tejo bulan lalu kapan mau dibayar?! Guk!”
Bedu yang kaget setengah mati langsung melompat bersembunyi di balik punggung Pak Kafi. “Awas Pak! Ada anjing rabies bawa toa! Mau saya pukul pakai ranting kayu ini?!”
Pak Kafi menahan tangan Bedu dengan sangat tenang, memasang raut wajah ala filsuf ternama. “Rileks, Bedu. Tahan emosimu. Ingat peribahasa kuno leluhur kita: Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Biarkan dia menggonggong sampai suaranya habis, kita tetap jalan terus.”
Gugun yang tak kehilangan akal ganti melancarkan serangan berikutnya. “Guk guk! Bedu, celana kamu bolong di belakang! Gambar Hello Kitty pink-nya kelihatan jelas tuh! Guk guk!”
Bedu spontan menutupi bagian belakang celananya dengan wajah merah padam.
“Wah, kurang ajar ini anjing! Kok dia tahu celana dalam kesayangan saya?! Pak, ini bukan sekadar menggonggong, ini pencemaran nama baik! Masa reputasi kafilah kita dibiarkan hancur?”
Pak Kafi tetap melangkah santai. “Biarkan saja, Bedu. Anggap saja itu suara jangkrik malam. Tetap melangkah!”
Gugun yang gemas melihat mangsanya tak bergeming akhirnya maju dan berbisik kencang lewat toa tepat di samping telinga Pak Kafi. “Guk guk! Kafi, istri muda kamu kemarin belanja sayur mahal pakai uang kas RT yang kamu pegang! Guk guk!”
Seketika itu juga, langkah Pak Kafi terhenti. Matanya melotot tajam, dadanya kembang-kempis, dan dia melempar pikulannya ke tanah. “HAH?! APA KAMU BILANG?!” teriak Pak Kafi menggelegar. Dia langsung menggeledah tas Bedu untuk mencari balok kayu paling besar.
“Bedu, ambilkan balok kayu! Kafilahnya libur dulu, kita bantai anjing ini sekarang juga!”
Bedu cuma bisa melongo kebingungan di tempat. “Lah, Pak! Katanya anjing menggonggong kafilah tetap berlalu?!”
Pak Kafi yang sudah melipat lengan baju dan siap mengejar Gugun berteriak murka, “Berlalu matamu! Kalau gosipnya sudah bawa-bawa uang kas RT, ini bukan kafilah berlalu, tapi kafilah berdarah-darah!”
Karya: Tim bhayaksa.net
