Oplus_131072
AMBON,bhayaksa.net— Meski wilayahnya tak seluas kota-kota besar lainnya di Indonesia, Kota Ambon menyimpan keistimewaan luar biasa. Hampir seluruh suku, agama, dan etnik Nusantara hidup berdampingan di kota berjuluk Manise ini. Keberagaman tersebut ditegaskan bukan sebagai pemisah, melainkan fondasi utama pembentuk kedamaian.
Pesan hangat ini disampaikan langsung oleh Penjabat (Pj) Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, saat membuka secara resmi Dialog Kebangsaan bertajuk “Bercerita Kota Ambon – For Ambon”.
Acara yang berlangsung penuh keakraban di Ambon ini diinisiasi oleh Kepolisian Resor Kota (Polresta) Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease.
”Ambon mungkin kota kecil, sulit dibandingkan kota-kota besar lainnya. Namun satu hal yang patut kita syukuri, hampir seluruh suku bangsa, agama, dan etnik di Indonesia ada di sini.
Keberagaman ini bukan hambatan, melainkan kekuatan luar biasa yang harus kita jaga bersama,” tegas Bodewin di hadapan para peserta dialog.
Filosofi ‘Orkestra’: Setiap Elemen Punya Peran Penting
Dalam arahannya, Bodewin menganalogikan proses pembangunan Kota Ambon layaknya sebuah pertunjukan orkestra. Agar tercipta alunan musik yang merdu dan harmonis, setiap pemain instrumen harus memainkan perannya dengan baik tanpa mengedepankan ego pribadi.
Begitu pula dengan masyarakat Ambon. Persatuan hanya akan terwujud jika seluruh elemen warga saling melengkapi dan tidak menonjolkan kepentingan kelompok semata.
”Kita semua berbeda latar belakang, namun di Ambon kita tinggal bersama, mencari nafkah bersama, bersekolah bersama. Pemerintah hadir untuk semua, tanpa membedakan siapa dan dari mana,” ungkapnya.
Jangan Goyah Cuma Gara-gara ‘Ocehan’ di Medsos
Menyikapi dinamika era digital, Bodewin memberikan sorotan khusus terhadap aktivitas warga di media sosial. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah tersulut emosi atau terprovokasi oleh narasi bernuansa rasisme serta kabar burung (hoaks) yang belum jelas kebenarannya.
Menariknya, Bodewin mengajak warga untuk berpikir dingin dan tidak membiarkan provokasi segelintir orang merusak jalinan persaudaraan yang sudah lama terbangun.
”Kalau hanya dua orang berucap tidak baik di medsos, mengapa kita semua harus gelisah, merasa tersakiti, hingga merasa terasing dari bangsa sendiri?” tanyanya retoris.
Ia berpesan agar setiap perbedaan pendapat disikapi secara santun. Menyebarkan informasi spekulatif yang belum terverifikasi hanya akan merenggangkan ikatan kekeluargaan dan merusak tatanan sosial warga kota.
Pahlawan Masa Kini: Bekerja Jujur dan Rawat Lingkungan
Memaknai arti perjuangan di era modern, Bodewin menegaskan bahwa menjadi pahlawan saat ini tak lagi dengan mengangkat senjata.
Perjuangan nyata masyarakat hari ini ditunjukkan melalui integritas, kepatuhan hukum, dan kontribusi positif bagi daerah.
Masyarakat diajak untuk menjadi pelaku sejarah yang membanggakan, bukan justru mencoreng nama baik Kota Ambon. Selain merawat persaudaraan, menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan juga menjadi tanggung jawab moral bersama.
Melalui Dialog Kebangsaan yang digagas Polresta Ambon ini, diharapkan lahir kesamaan pandangan dari seluruh elemen masyarakat demi menjaga keamanan, kedamaian, dan keberlanjutan Kota Ambon ke depan.
”Jika setiap pihak menjalankan tanggung jawabnya masing-masing dengan baik, yakinlah Kota Ambon akan semakin baik. Ambon yang damai, toleran, dan berkelanjutan, itulah cita-cita kita bersama,” tutup Bodewin penuh optimisme.
Pewarta: Milan Conny Manuputy
Editor: Tim bhayaksa.net
