Pak Tagor itu tipikal warga yang kalau melihat orang sedang bekerja, tangannya langsung gatal ingin menunjuk-nunjuk. Masalahnya, pengetahuan teknisnya cuma sebatas membaca judul artikel sepintas di media sosial, tapi gengsinya setinggi langit.
Hari itu, warga RT 05 sedang bergotong-royong memasang mesin pompa air otomatis untuk fasilitas umum. Kang Maman, teknisi listrik kampung yang sudah berpengalaman belasan tahun, sedang khusyuk mengupas kabel.
Tiba-tiba Pak Tagor datang membawa toa kecil, lengkap dengan kacamata hitam yang disangkutkan di kerah kaosnya.
”Stop, stop! Maman, cara kamu menyambung kabel itu kuno sekali! Ini zaman digital!” seru Pak Tagor sok berwibawa.
Kang Maman menghela napas. “Lho, Pak Tagor, ini kan kabel fase dan netral, harus teliti biar tidak korslet…”
”Halah, alasan! Biar saya yang atur,” potong Pak Tagor seraya mengambil alih obeng. “Prinsipnya simpel, kabel warna biru itu artinya cool, masuk ke saklar merah biar suhunya seimbang.
Kabel kuning ini arus positif keberuntungan! Kalian yang muda-muda ini kurang literasi teknologi!”
Warga yang berkumpul hanya bisa saling pandang. Kang Maman mencoba mencegah, tapi Pak Tagor justru makin bersemangat mengacak-acak konfigurasi panel listrik sambil berkacak pinggang.
“Tolong itu posisi ember agak miring 45 derajat! Biar aerodinamis aliran airnya!” perintahnya berulang kali.
Setelah merasa racikan “genius”-nya selesai, Pak Tagor tersenyum jumawa.
“Lihat ya, begitu tombol ini saya tekan, air langsung mengalir deras dengan efisiensi tinggi!”
Klik!
Bukan air yang mengalir tenang, melainkan pipa utama meledak pelan akibat tekanan udara yang tersumbat.
BUSH! Semburan air bercampur lumpur hitam langsung menembak tepat ke wajah Pak Tagor. Tak hanya itu, klakson sirine darurat yang salah disambung ke jalur saklar malah melengking keras memainkan suara alarm bergelombang tanpa henti.
Pak Tagor berdiri membeku, basah kuyup dengan lumpur menetes dari kacamata hitamnya. Warga yang tadinya menahan napas langsung meledak dalam tawa.
Kang Maman dengan tenang melangkah maju, mematikan saklar utama, lalu membetulkan kabel yang tertukar dalam hitungan detik. Seketika sirine berhenti, dan air jernih pun mengalir lancar.
Pak Tagor menyapu lumpur di wajahnya. Rasa malunya jauh lebih basah daripada bajunya. Namun, bukannya mengejek, Kang Maman menyodorkan handuk bersih sambil tersenyum hangat.
“Pak Tagor, memimpin itu bukan soal siapa yang paling keras menyuruh, tapi siapa yang mau mendengar. Kalau belum paham, belajar sama-sama kan jauh lebih enak.”
Pak Tagor tertawa hambar, menyadari betapa konyolnya sikap sok tahu yang baru saja mempermalukannya. Sejak hari itu, Pak Tagor tetap bersemangat meramaikan gotong royong, tapi toanya sudah berganti dengan dua telinga yang jauh lebih siap mendengarkan arahan para ahlinya.
karya:Tim bhayaksa.net
