IMG_20260809_011904


​Di warung kopi Pak Tejo, Bang Udin sedang memegang cangkir kopi hitam dengan gaya mirip CEO multinasional yang sedang memberi kuliah umum. Di depannya, Mas Jono menyimak serius sambil membawa buku catatan kusam dan pulpen yang sudah mau habis tintanya.


​”Jono,” kata Udin dengan nada berat yang dibuat-buat, “rahasia bisnis masa kini itu cuma satu: Mindset! Kalau pikiranmu bilang kamu kaya, kamu pasti kaya!”
​”Wah, keren Bang Udin,” jawab Jono takjub. “Terus, Bang Udin sendiri udah kaya?”


​Udin menyeruput kopinya perlahan, mendesis lirih. “Proses, Jon. Saat ini saya sedang ada di tahap pembentukan mental pengusaha. Belum masuk tahap pegang uangnya.”


​Pak Tejo yang sedang meracik mi instan tiba-tiba menyela dari balik kompor. “Artinya kamu masih ngutang kopi lima gelas dari minggu lalu kan, Din?”


​Warung kopi seketika hening. Jono menahan tawa, sementara Udin batuk-batuk kecil menutupi gengsi.


​”Pak Tejo jangan memotong visioner yang sedang berbagi ilmu,” kilah Udin cepat. “Lihat Jon, saya sudah bikin rencana bisnis matang. Usaha keripik pisang rasa matcha-lavender. Lengkap dengan target pasar anak muda yang lagi patah hati.”
​”Rencananya dibuat kapan, Bang?” tanya Jono lugu.


​”Dua tahun lalu,” jawab Udin bangga.
​”Pisangnya mana?”
​”Nah! Masalahnya ada di pasokan pisang yang belum saya survei. Tapi konsepnya sudah 90 persen matang di dalam kepala saya!”


​Pak Tejo meletakkan mangkuk mi di meja Udin lalu menepuk pundaknya. “Din, kepala kamu itu isinya udah kaya perpustakaan ide. Tapi idemu itu mirip jemuran basah di musim hujan—kalau cuma dipikirin dan didiemin terus, lama-lama baunya apek.”


​Jono tertawa meledak, tak sanggup menahan lagi. Udin tersenyum kecut.
​”Ide biasa saja kalau langsung dikerjakan,” lanjut Pak Tejo hangat, “hasilnya jauh lebih nyata daripada ide spektakuler yang cuma parkir di jidat. Mending besok pagi kamu beli pisang satu sisir, goreng, lalu jual. Biar utang kopimu ada hilalnya.”


​Udin terdiam sejenak. Dia menatap cangkir kopinya, lalu melihat Pak Tejo. “Bener juga ya, Pak. Ngomongin konsep bisnis sejuta dolar nggak bakal bisa ngebayar kopi lima ribu perak.”


​Besok paginya, Udin tak lagi berceramah di warung kopi. Dia berdiri di depan gerbang rumahnya membawa wajan besar dan papan tulisan dari kardus: “Keripik Pisang Udin: Rasanya Nyata, Bukan Cuma Rencana!”

Naskah:Tim bhayaksa.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *