IMG_20260826_033445
Waterteron peninggalan kolonial Belanda, lapangan Banteng, Jambi, Indonesia

𝗝𝗔𝗠𝗕𝗜,𝗯𝗵𝗮𝘆𝗮𝗸𝘀𝗮.𝗻𝗲𝘁— Sejarah bukan sekadar deretan angka tahun di dalam buku kurikulum resmi, melainkan jejak fisik dan memori lisan yang berdenyut di sudut-sudut kota. Provinsi Jambi menyimpan rentetan fragmen sejarah lokal mutakhir yang luput dari media nasional arus utama. Melalui penelusuran mendalam, bhayaksa.net merangkum profil sejarah lokal Jambi mulai dari era kolonial Hindia Belanda, ketegangan proklamasi Agustus 1945, pergolakan agresi militer, hingga penyerahan kedaulatan di penghujung tahun 1949. Liputan khusus ini disajikan sebagai sumber rujukan tepercaya bagi masyarakat, akademisi, dan para pelajar untuk mengenal jati diri tanah pilih pesisir Batanghari.

Monumen Kedaulatan: Menara Air (Watertoren) Benteng

Berdiri kokoh dengan diameter 9,36 meter dan tinggi menjulang 24,15 meter di kawasan Kelurahan Murni, Kota Jambi, Menara Air Benteng merupakan saksi bisu transisi kekuasaan yang luar biasa. Dibangun pada masa Hindia Belanda antara tahun 1928 hingga 1931 oleh pemerintah otonom kolonial (Staadfonds atau Stadsgemeente Jambi) melalui perusahaan air Waterleiding Bedrijf, infrastruktur ini awalnya berfungsi ganda. Selain menyaring air bersih untuk pusat kota dan pelabuhan, letaknya yang berada di area benteng militer menjadikannya menara pemantau intelijen pertahanan kolonial guna mengawasi lalu lintas Sungai Batanghari.

Namun, sejarah mencatat menara ini bertransformasi menjadi menara kedaulatan pada 19 Agustus 1945. Dua hari pasca-Proklamasi di Jakarta, ketika tentara Angkatan Darat Jepang (Rikugun) berupaya mengisolasi informasi dan mempertahankan status quo, para pemuda militan Jambi yang berhasil menyadap transmisi sandi morse segera bergerak. Dipilih karena merupakan bangunan tertinggi di Kota Jambi saat itu, dua pemuda pemberani, R. Husin Akip dan M. Amin Aini, memanjat tangga besi vertikal menara di bawah bayang-bayang moncong senjata penjajah demi mengibarkan bendera Merah Putih untuk pertama kalinya di bumi Jambi.

Ketika militer Belanda (NICA) kembali melakukan re-okupasi dalam Agresi Militer, menara ini sempat direbut kembali dan difungsikan sebagai pos sniper kolonial. Kendati demikian, sabotase dari para pekerja pribumi dan serangan gerilya malam hari dari para pejuang tak pernah berhenti mengusik pendudukan Belanda di kawasan benteng tersebut hingga kedaulatan penuh diraih kembali.

Titik Balik di Pasar Muara Tembesi dan Jejak Bung Hatta (1949)

Perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan mencapai puncaknya di penghujung tahun 1949. Jika secara diplomasi nasional penyerahan kedaulatan ditandatangani oleh Wakil Presiden Dr. Mohammad Hatta di Amsterdam pada 27 Desember 1949, maka penyerahan kekuasaan teritorial di Jambi berpusat di Pasar Muara Tembesi, Kabupaten Batanghari.

Muara Tembesi dipilih karena merupakan jantung pertahanan strategis dan pos logistik utama Belanda di luar Kota Jambi. Dalam safari konsolidasi politiknya, Bung Hatta hadir langsung di tengah rakyat Batanghari, menyaksikan serah terima barak militer dan wilayah administratif dari komando Belanda kepada Angkatan Perang Republik Indonesia yang diwakili oleh tokoh militer legendaris, Kolonel Raden Mattaher. Malam itu, Bung Hatta bermalam di rumah pesanggrahan kuno peninggalan Belanda, mengonsolidasikan semangat persatuan masyarakat Jambi dalam bingkai NKRI.

Merawat Memori di Lapangan Banteng: Museum Perjuangan Rakyat Jambi

Untuk mengunci rantai sejarah agar tidak putus, sebuah museum didirikan tepat di seberang selatan Menara Air Benteng. Lahan tempat museum ini berdiri dahulu dikenal sebagai Lapangan Banteng, alun-alun terbuka yang menjadi titik kumpul utama rahasia bagi organisasi kepemudaan, basis pergerakan barisan pemuda, serta lokasi upacara massal mempertahankan kemerdekaan.

Pembangunan museum ini diprakarsai oleh Dewan Harian Daerah Angkatan ’45 (DHD-45) bersama Pemerintah Daerah Provinsi Jambi. Peletakan batu pertama dilakukan pada 6 Juni 1993 oleh Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), Letnan Jenderal Achmad Tahir, dan diresmikan secara kokoh oleh Presiden RI, H.M. Soeharto, pada 10 Juli 1997. Dengan arsitektur megah berlantai tiga yang memadukan corak Rumah Panggung Melayu Jambi dan desain modern, museum ini kini menyimpan ratusan artefak perjuangan, mulai dari senjata tradisional, seragam perang, hingga mahakarya ikonik di halaman depannya: Replika Pesawat Amfibi Catalina RI 005 yang jatuh tenggelam di Sungai Batanghari saat mengemban misi penyelundupan senjata pejuang Jambi.


Wawancara Eksklusif Bersama Saksi Sejarah

Wawancara langsung dilaksanakan oleh Pewarta bhayaksa.net pada Selasa, 25 Agustus 2026, menemui salah satu tokoh sesepuh masyarakat yang mengasuh ingatan kolektif di sekitar kawasan Murni, Kota Jambi.

Bhayaksa: “Selamat siang, Kek. Bisa diceritakan kembali bagaimana suasana mencekam di kaki Menara Air Benteng saat pengibaran bendera pertama kali pada 19 Agustus 1945?”

Narasumber: “Siang, Nak. Waktu itu saya masih anak-anak, ingatan saya dipenuhi ketakutan sekaligus rasa bangga. Suasana di sekitar sini (Kelurahan Murni) sangat tegang. Tentara Jepang mondar-mandir dengan senjata lengkap. Ketika Husin Akip dan Amin Aini mulai memanjat tangga luar menara membawa kain merah putih besar, ratusan pemuda langsung merapat. Mereka membuat barikade melingkari kaki menara, siap mati terjang peluru kalau tentara Jepang menembak jatuh pemuda yang di atas.”

Bhayaksa: “Bagaimana respons tentara Jepang saat melihat bendera Merah Putih akhirnya berkibar di puncak tertinggi bangunan?”

Narasumber: “Mereka sangat marah, mukanya merah, sempat ada perintah untuk menurunkan paksa. Tapi komandan mereka ragu-ragu karena posisi Jepang sudah kalah perang dari Sekutu dan mental mereka jatuh. Di bawah menara, rakyat sudah mengepung kompak. Kalau ada satu peluru meletus, kota ini bisa dibakar habis oleh amarah pemuda. Akhirnya tentara Jepang memilih menahan diri di dalam barak benteng mereka. Kejadian di menara itulah yang memicu keberanian anak-anak muda bergerak ke gedung lain untuk menurunkan bendera Jepang.”

Bhayaksa: “Lalu bagaimana nasib menara ini ketika Belanda (NICA) datang menyerbu kembali beberapa bulan kemudian?”

Narasumber: “Belanda langsung merebut menara air karena ini jantung air bersih kota dan tempat paling bagus buat memantau pergerakan gerilya di Sungai Batanghari. Bendera kita dicopot paksa oleh mereka. Di atas sana ditaruh penembak jitu (sniper). Tapi pejuang kita di bawah tidak menyerah, Nak. Pekerja-pekerja ledeng kita yang pribumi sering bikin mogok atau merusak saluran pipa secara rahasia untuk menyabotase pasokan air markas militer Belanda. Perang urat saraf itu terjadi bertahun-tahun di sekitar Lapangan Banteng ini sampai penyerahan kedaulatan tahun 1949.”

Bhayaksa: “Apa pesan Kakek untuk generasi muda, akademisi, dan pelajar Jambi yang membaca profil sejarah ini?”

Narasumber: “Tanah yang kalian injak di sekitar menara air dan museum ini dibasahi keringat dan darah pejuang lokal. Tolong dijaga, dirawat, dan dipelajari. Jangan sampai anak-anak Jambi lebih hafal sejarah tempat lain daripada sejarah kampung halamannya sendiri. Menara air ini bukan sekadar urusan PDAM, ini adalah menara tegaknya harga diri kita.”


Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. Seluruh materi, hasil investigasi, struktur narasi, dan transkrip wawancara dalam artikel ini merupakan hak cipta murni dan produk jurnalistik orisinal bhayaksa.net.

Pewarta: Harvery
Editor: Tim bhayaksa.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *