oplus_0
JAMBI, bhayaksa.net — Fenomena kodrati yang sangat langka dan sarat akan makna mendalam ditemukan di kawasan Kota Baru, Kota Jambi pada Sabtu (29/8/2026). Seekor kucing domestik berbulu calico (belang tiga) mendadak memantik perhatian besar lantaran terlahir dengan kondisi sepasang bola mata berbeda warna yang sangat kontras, sebuah fenomena visual eksotis yang dikenal sebagai heterochromia iridis.
Kucing unik yang belum pernah terekspos di platform media sosial mana pun ini pertama kali dijumpai secara langsung oleh Harvery, yang juga merupakan reporter dari media siber bhayaksa.net. Satwa lokal tersebut memiliki kombinasi mata yang menakjubkan; mata sebelah kanan berwarna biru jernih layaknya samudra luas, sementara mata sebelah kiri memancarkan warna hijau kekuningan yang sangat tajam.
Harvery mengisahkan bahwa awalnya ia sempat menduga kondisi fisik mencolok tersebut membawa kelainan bawaan pada fungsi indra pendengaran sang kucing, sebagaimana mitos yang kerap melekat pada kucing bermata biru atau beda warna. Namun, asumsi tersebut seketika patah saat interaksi langsung terjadi di lokasi.
“Mulanya saya kira kucing ini mengalami kelainan dan tidak bisa mendengarkan panggilan. Namun, saat saya mengelus dan memanggil ‘pus’, ia langsung menoleh. Ini menandakan bahwa pendengaran dan kondisi tubuh kucing ini baik-baik saja,” ungkap Harvery saat memberikan keterangan di Jambi, Sabtu (29/8/2026).
Ketakjuban akan keindahan visual sang anabul sempat membuat jurnalis bhayaksa.net ini terpikat untuk mengadopsi dan membawanya pulang. Kendati demikian, karena adanya beberapa pertimbangan, rencana adopsi tersebut akhirnya urung dilakukan.
“Kucing dengan karakteristik seperti ini seumur hidup baru pertama kali saya jumpai langsung. Matanya sangat luar biasa indah dan tidak ada di tempat lain,” sambung Harvery.
Lebih dari Sekadar Sains: Isyarat Perubahan Kodrati
Secara literatur ilmiah medis veteriner, bertemunya corak bulu calico—yang dikendalikan oleh genetika kromosom X—dengan mutasi warna mata akibat distribusi pigmen melanin yang tidak merata merupakan peristiwa dengan probabilitas yang sangat kecil di alam liar. Namun, di balik kalkulasi sains, penemuan ini dirasakan membawa pesan filosofis yang jauh lebih kuat bagi sang penemu.
Keunikan visual luar biasa yang mampu berdampingan secara harmonis dalam satu tubuh mahluk hidup tersebut dipandang sebagai sebuah refleksi metamorfosis waktu. Ada pesan tersirat yang melampaui urusan mutasi genetik murni.
“Secara genetik hal ini mungkin berlaku dan bisa dijelaskan, namun secara kodrati, ini bisa jadi merupakan sebuah tanda-tanda adanya perubahan di dalam dunia kita saat ini,” pungkas Harvery merefleksikan makna mendalam di balik pertemuannya dengan sang kucing.
Hingga saat ini, kucing domestik penuh misteri tersebut tetap dibiarkan berada di habitat asalnya di kawasan Kota Baru, Kota Jambi. Kehadirannya seolah menjadi pengingat bisu bagi setiap mata yang memandang bahwa alam semesta selalu memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan tanda-tanda keajaiban dan pergulatan roda zaman.
Pewarta: Harvery
Editor: Tim bhayaksa.net
