Oplus_131072

Oplus_131072


​CANBERRA, bhayaksa.net – Perubahan iklim dan gelombang panas ekstrem ternyata tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga membawa ancaman serius bagi kesehatan mental generasi muda. Peneliti dari Universitas Flinders, Australia, mengungkap bahwa lonjakan suhu harian berkaitan erat dengan meningkatnya gangguan mental pada anak-anak dan remaja.


​Berdasarkan tinjauan ilmiah terbaru yang diterbitkan dalam International Journal of Epidemiology, setiap kenaikan suhu harian sebesar 1 derajat Celsius dapat meningkatkan risiko dampak buruk terhadap kesehatan mental anak hampir sebesar 1 persen.


​Studi ini dilakukan dengan menganalisis data komprehensif dari 23 penelitian global yang meneliti hubungan antara lonjakan suhu, gelombang panas, dan kondisi psikologis masyarakat.


​Kelompok Usia 5–18 Tahun Paling Rentan


​Dari hasil pemodelan data tersebut, peneliti menemukan bahwa kelompok anak-anak dan remaja berusia 5 hingga 18 tahun merupakan kelompok yang paling rentan terdampak.
​Risiko gangguan kesehatan mental pada kelompok usia ini melonjak hingga 25 persen saat gelombang panas terjadi.

Sementara itu, paparan suhu tinggi secara umum dapat meningkatkan risiko tersebut sebesar 1,5 persen.
​Epidemiolog sekaligus Lektor Kepala di Universitas Flinders, Jacqueline Stephens, menjelaskan bahwa perubahan iklim memicu gelombang panas yang semakin sering dan parah di berbagai belahan dunia, termasuk Australia.

Kondisi ini secara langsung menaikkan potensi krisis kesehatan masyarakat, terutama bagi anak-anak.
​”Anak-anak sangat rentan karena suhu tinggi dapat mengganggu pola tidur, aktivitas luar ruangan, proses belajar di sekolah, hingga rekreasi. Selain itu, stres akibat cuaca panas yang dialami orang tua juga berdampak pada kesejahteraan emosional anak-anak,” terang Stephens.


​Meningkatnya Kunjungan UGD dan Risiko Depresi


​Dampak cuaca ekstrem ini tidak boleh dianggap remeh. Profesor Corey Bradshaw dari Universitas Flinders menyatakan bahwa pemodelan data menunjukkan korelasi langsung antara lonjakan suhu panas dengan meningkatnya kunjungan pasien ke Unit Gawat Darurat (UGD).


​Kasus kecemasan (anxiety), depresi, hingga percobaan bunuh diri pada anak dan remaja tercatat mengalami peningkatan signifikan selama periode suhu ekstrem.


​”Temuan ini menegaskan betapa pentingnya mengintegrasikan penanganan kesehatan mental ke dalam strategi adaptasi iklim. Kita perlu intervensi khusus yang menyasar kebutuhan anak-anak dan remaja,” ujar Profesor Bradshaw.


​Solusi Praktis di Lingkungan Sekolah


​Untuk menekan dampak buruk cuaca panas terhadap kesehatan mental anak, para peneliti merekomendasikan langkah-langkah adaptasi yang konkret dan dapat segera diterapkan di lingkungan pendidikan maupun tempat tinggal.


​Beberapa solusi praktis yang disarankan antara lain:
​Penyediaan Ruang Kelas Sejuk: Memastikan ruang belajar memiliki pendingin udara atau pengatur suhu yang memadai.
​Sirkulasi Udara Optimal: Memperbaiki sistem ventilasi di gedung-gedung sekolah.


​Area Peneduh Luar Ruangan: Memperbanyak ruang terbuka hijau dan tempat berteduh untuk aktivitas fisik anak secara aman.
​Langkah-langkah preventif ini diharapkan dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman bagi tumbuh kembang emosional anak di tengah tantangan perubahan iklim global.


​Pewarta: David Gunawan Sanjaya
Editor: Tim bhayaksa.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *