Oplus_131072

Oplus_131072

Suasana di jembatan Gentala Arasy, Kota Jambi.

JAMBI,bhayaksa.net— Masyarakat Kota Jambi terbangun dengan pemandangan langit kelabu yang pekat. Bau menyengat sisa pembakaran tercium jelas di udara, menandakan Kota Beradat ini sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) regional yang meningkat pesat dalam beberapa hari terakhir akhirnya berimbas langsung pada kualitas udara perkotaan.

Berdasarkan data aplikasi ISPUnet Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Senin pagi, 24 Agustus 2026 pukul 09.12 WIB, parameter partikulat halus PM2.5 di Kota Jambi melonjak tajam menyentuh angka 207, yang berarti masuk dalam Kategori Sangat Tidak Sehat. Kondisi ini jauh memburuk dibanding satu hari sebelumnya, Minggu (23/8/2026), saat indeks pencemaran masih fluktuatif di angka 101.

Jarak Pandang Anjlok, Dua Pesawat Gagal Mendarat

Memburuknya kepekatan asap berimbas fatal pada sektor transportasi udara. Otoritas penerbangan melaporkan bahwa pada Minggu siang, 23 Agustus 2026, jarak pandang (visibility) di landasan pacu Bandara Sultan Thaha Jambi merosot drastis hingga tersisa 1.000 meter saja.

General Manager PT Angkasa Pura Bandara Sultan Thaha Jambi, Ardon Marbun, memberikan keterangan resmi terkait kendala operasional tersebut pada Minggu sore (23/8/2026).

“Jarak pandang menyusut cepat dari 5.000 meter pada pukul 09.30 WIB menjadi hanya 1.000 meter pada pukul 10.30 WIB. Akibatnya, dua pesawat dari Jakarta gagal mendarat demi keselamatan penerbangan. Maskapai Batik Air terpaksa mengalihkan pendaratan (divert) ke Batam, sementara Super Air Jet dialihkan ke Palembang,” jelas Ardon.

Angin Bawa Kabut Asap Lintas Provinsi

Meskipun wilayah administrasi Kota Jambi minim vegetasi hutan besar, kiriman asap pekat ini dipastikan datang dari daerah tetangga. Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Thaha Jambi, M. Randy Herdyansyah, merilis data terkait pergerakan angin dan titik panas (hotspot) pada Senin pagi, 24 Agustus 2026.

Menurut data BMKG, ribuan titik panas terdeteksi di Pulau Sumatra, dengan akumulasi lahan terbakar paling luas berada di Kabupaten Muaro Jambi (264,78 hektare).

“Secara lokal, Kota Jambi belum mendeteksi adanya lahan hutan yang terbakar berskala besar. Peningkatan polusi udara yang terjadi murni karena faktor meteorologis, di mana angin monsun berembun membawa distribusi asap karhutla dari wilayah penyangga seperti Muaro Jambi, serta kiriman regional dari Sumatera Selatan,” ungkap Randy.

Opsi Meliburkan Sekolah Mulai Disiapkan

Merespons kualitas udara yang terus merosot ke zona merah, Pemerintah Provinsi dan Kota Jambi bergerak cepat. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jambi, Arief Munandar, mengonfirmasi status kedaruratan udara ini pada Senin siang, 24 Agustus 2026.

“Pemprov Jambi melalui DLH terus memantau pergerakan kualitas udara secara real-time lewat empat stasiun pemantau. Kami kini tengah mematangkan koordinasi dengan BPBD dan Dinas Pendidikan untuk mengkaji opsi meliburkan aktivitas belajar mengajar di sekolah atau memindahkannya menjadi daring, guna melindungi anak-anak dari paparan kabut asap,” tegas Arief.

Senada dengan itu, Kepala DLH Kota Jambi, Mahruzar, mengingatkan warga—terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita asma—untuk wajib mengenakan masker medis jika terpaksa keluar rumah. Masyarakat juga diminta memperbanyak konsumsi air putih untuk meminimalisir efek iritasi tenggorokan, tutupnya.


KAMUS INFO: Pahami Istilah Polusi Udara di Sekitar Kita

Agar tidak salah membaca data, berikut adalah pengertian istilah-istilah ilmiah yang sering muncul saat musim kabut asap:

  • PM2.5 (Particulate Matter 2.5): Partikel udara padat atau cair yang berukuran sangat kecil, yakni kurang dari 2,5 mikrometer (30 kali lebih tipis dari sehelai rambut manusia). Karena ukurannya yang mikro, partikel asap karhutla ini tidak bisa disaring oleh bulu hidung kita dan bisa langsung masuk ke aliran darah serta paru-paru.
  • AQI (Air Quality Index): Indeks skala internasional yang digunakan untuk mengukur seberapa bersih atau tercemarnya udara di suatu wilayah. Semakin tinggi nilai AQI (0–500+), semakin besar tingkat polusi udara dan bahayanya bagi kesehatan.
  • ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara): Indeks resmi yang digunakan Pemerintah Indonesia (melalui KLHK) untuk menggambarkan kondisi mutu udara ambien di lokasi tertentu. Berbeda dengan AQI global, ISPU disesuaikan dengan regulasi baku mutu lingkungan nasional (Kategori: Baik, Sedang, Tidak Sehat, Sangat Tidak Sehat, Berbahaya).
  • ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut): Infeksi yang menyerang salah satu atau lebih bagian saluran pernapasan, mulai dari hidung, tenggorokan, hingga paru-paru. Gejala umumnya meliputi batuk, pilek, sesak napas, dan sakit tenggorokan, yang biasanya meningkat tajam saat musim kabut asap.
  • Hotspot (Titik Panas): Indikator kebakaran lahan berupa anomali suhu permukaan bumi yang tinggi, yang ditangkap oleh sensor satelit milik BMKG/LAPAN. Munculnya hotspot menjadi peringatan awal terjadinya potensi karhutla di suatu area.

Pewarta:Harvery

Editor: Tim bhayaksa.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *