Oplus_131072
KUPANG, bhayaksa.net — Jumlah korban meninggal dunia pascagempa bumi utama bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini dilaporkan bertambah menjadi 100 jiwa hingga Senin (24/8/2026). Penambahan angka tersebut berasal dari para korban luka berat yang mengembuskan napas terakhir saat menjalani perawatan intensif di sejumlah fasilitas kesehatan darurat.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengonfirmasi bahwa penanganan medis terus dimaksimalkan di lapangan. “Kami sampaikan bahwa total korban meninggal dunia per hari ini tercatat 100 orang. Mayoritas merupakan pasien luka berat yang kondisinya memburuk selama masa perawatan pascaevakuasi awal,” ujar Suharyanto dalam konferensi pers daring, Senin (24/8).
Selain korban jiwa, data mutakhir BNPB mencatat 1.603 warga mengalami luka-luka dan 180.327 penduduk masih bertahan di posko pengungsian akibat kerusakan tempat tinggal serta faktor trauma. Kerusakan fisik infrastruktur sementara mencakup 73.818 unit rumah warga—dengan rincian 23.276 rusak berat, 17.563 rusak sedang, dan 32.979 rusak ringan—serta 1.915 fasilitas publik seperti gedung sekolah dan rumah ibadah.
Aktivitas Seismik Belum Reda
Di sisi lain, gempa susulan berkekuatan M 5,2 kembali mengguncang wilayah Ruteng, Kabupaten Manggarai, pada Senin (24/8) dini hari pukul 04.20 WIB. Berdasarkan rilis resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa dangkal tersebut berada di kedalaman 10 kilometer akibat aktivitas patahan lokal Flores Back-Arc Thrusting.
Hingga Senin pagi, BMKG mendeteksi total 6.397 kali aktivitas gempa susulan sejak gempa utama melanda sembilan hari lalu. Pihak Stasiun Geofisika Kupang terus mengimbau masyarakat agar tidak memasuki bangunan yang strukturnya sudah retak atau rapuh, mengingat potensi guncangan susulan diprediksi masih akan terjadi dalam beberapa pekan ke depan.
Mobilisasi Kapal Rumah Sakit
Guna mempercepat pelayanan medis bagi para pengungsi di pulau terdampak, sejumlah armada kesehatan terapung telah disiagakan. KRI dr. Suharso 990 milik TNI AL saat ini beroperasi di Pelabuhan Reo, mendampingi Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga yang bersandar di Manggarai Timur untuk menangani tindakan bedah dan perawatan darurat.
Pemerintah daerah di beberapa wilayah paling terdampak, termasuk Sikka, Manggarai, dan Nagekeo, sejauh ini masih memberlakukan status tanggap darurat guna memotong jalur birokrasi penyaluran logistik serta mempermudah koordinasi penanganan pascabencana.
Pewarta: Susana Emilia Taebenu
Editor: Tim bhayaksa.net
