Oplus_131072
Di salah satu sudut sunyi kawasan Tanjung Lumut, Kelurahan Talang Bakung, Jambi, berdiri seonggok puing bangunan yang perlahan-lahan lenyap ditelan kegelapan semak belukar. Puluhan tahun silam, tempat ini adalah sebuah rumah tinggal yang dirancang kokoh. Namun kini, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan: dinding semen yang menghitam pekat akibat kelembapan bertahun-tahun, sisa bata merah yang runtuh dan mencuat seperti tulang belulang, serta hamparan daun kering yang membusuk di atas lantai tanah.
Bagi warga sekitar yang kerap melintas di saat malam merayap naik, rumah runtuh ini menyimpan medan magnet supranatural yang kuat. Di balik penampilannya yang mencekam, ada satu rahasia kelam yang terus berbisik dari mulut ke mulut: kisah tentang sebuah penantian abadi yang tidak pernah selesai.

Janji yang Ditinggal Waktu
Awal petaka telantarnya rumah ini bermula pada awal tahun 1980-an. Bangunan ini sedianya adalah istana kecil yang dibangun oleh seorang pemuda untuk calon istrinya, seorang kembang desa berparas jelita yang gemar mengenakan gaun putih. Kegembiraan itu mendadak sirna ketika sang pemuda tewas seketika dalam kecelakaan maut di luar kota, hanya beberapa minggu menjelang hari pernikahan mereka.
Sejak hari itu, kewarasan sang wanita seolah runtuh bersama impiannya. Saban hari, dari matahari terbenam hingga tengah malam buta, ia kedapatan sering duduk menyendiri di ambang pintu bangunan yang baru setengah jadi itu. Ia mengenakan gaun pengantin putihnya, menatap nanar ke arah jalan kosong, menanti kepulangan sang kekasih yang telah membusuk di dalam kubur.
Hingga wanita itu mengembuskan napas terakhirnya dalam kesendirian, rumah tersebut tidak pernah diselesaikan dan dibiarkan terbengkalai. Rasa rindu yang teramat pekat, keputusasaan, dan energi penantian yang tak tersampaikan disinyalir telah terekam secara permanen pada tanah dan dinding bangunan, bermanifestasi menjadi sosok gaib yang kini menguasai reruntuhan.
Pertemuan di Tengah Malam: Kesaksian Peronda
Meskipun entitas ini dikenal tidak pernah berbuat usil, kehadirannya di tengah gulita tetap sanggup menarik paksa bulu kuduk siapa pun hingga merinding hebat. Aris (26), seorang pemuda setempat yang rutin melakukan ronda malam di lingkungan RT sekitar Tanjung Lumut, menceritakan pengalaman spiritualnya yang paling membekas.
“Waktu itu jam menunjukkan pukul dua dini hari, udara mendadak turun drastis menjadi sangat dingin dan menusuk,” kenang Aris dengan tatapan serius. “Saat langkah kaki kami melewati gang di depan rumah runtuh itu, saya mencium bau harum bunga kamboja yang bercampur dengan aroma tanah basah. Senter di tangan saya arahkan ke celah pintu yang sudah hancur.”
Di sana, di tengah-tengah ruangan yang jendelanya telah ditumbuhi akar pohon liar, berdiri sesosok wanita. Wajahnya teramat cantik namun pucat pasi tanpa darah, dengan rambut hitam legam yang terurai panjang hingga menyentuh pinggang. Yang membuat dada sesak adalah pakaiannya; sebuah gaun putih bersih yang sama sekali tidak terkena noda, sangat kontras dengan dinding di sekelilingnya yang berlumut hitam dan dipenuhi botol-botol bekas berserakan.
Bukannya berteriak, tertawa melengking, atau mengejar seperti hantu agresif pada umumnya, sosok itu hanya mematung. Ia menatap lurus menembus kegelapan malam dengan pandangan mata yang teduh namun menyiratkan kesedihan yang mendalam. “Kami semua terkunci, tidak bisa bergerak. Ketika kami mencoba melangkah mundur perlahan, sosok wanita cantik itu perlahan memudar, menembus dinding bata, lalu hilang begitu saja seperti kabut yang diembus angin,” tambah Aris.
Keheningan Abadi di Balik Puing
Kini, seluruh atap rumah tersebut telah runtuh total, memperlihatkan langit malam yang kelam tepat di atas bekas kamar-kamarnya. Namun bagi entitas yang terjebak di sana, ruang dan waktu seolah berhenti. Di dimensi yang berbeda, rumah itu mungkin masih berdiri megah dan utuh sama seperti puluhan tahun lalu.
Ia memilih menjadi penunggu yang sunyi. Tidak berniat mencelakai manusia yang lewat, karena seluruh eksistensinya telah tersita oleh satu hal: kesetiaan menjaga janji masa lalu yang telah lama ditinggal mati oleh waktu di tanah Tanjung Lumut.
Karya: bhayaksa.net
