Oplus_131072
Kisah ini bukan rekaan, bukan pula buah dari lamunan malam. Ini adalah sekerat ingatan nyata yang terpatri abadi di kepala saya—sebuah pengalaman spiritual yang teramat mencekam dan murni saya alami sendiri, hingga detik ini menyisakan misteri yang tak pernah terpecahkan oleh logika manusia.
Kengerian itu bermula di sebuah lokasi bernama Lingkar Naga, yang terletak di Desa Kasang Lopak Alai, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi.
Maghrib yang Menjerat dan Jalan yang Hilang
Sore itu, waktu sudah kepalang tanggung. Langit Jambi perlahan meluruh, berubah warna menjadi merah saga keunguan—sebuah pertanda bahwa waktu Maghrib segera tiba. Suasana di kawasan Lingkar Naga mendadak berubah menjadi sangat senyap. Hanya ada deru mesin sepeda motor yang saya kendarai, membelah jalanan setapak yang dikepung pekatnya perkebunan karet yang menjalar liar.
Merasa hari sudah mulai gelap, saya memutuskan untuk segera memutar arah dan pulang. Logikanya sederhana: saya hanya perlu menyusuri kembali satu-satunya jalan setapak yang tadi saya lalui saat masuk ke area perkampungan tersebut. Namun, di sinilah kejanggalan yang membuat darah saya mendadak membeku itu dimulai.
Jalan pulang itu hilang.
Benar-benar lenyap tanpa bekas. Di hadapan saya, jalan yang tadi jelas-jelas saya lalui kini berganti menjadi deretan pohon-pohon karet tua yang berbaris rapat, seolah bergeser untuk mengurung saya. Saya mencoba memutar arah, menaikkan gas motor, dan mencari jalan keluar lain. Namun, nihil.
Hampir satu jam lamanya saya terjebak di dalam labirin gaib yang mengerikan itu. Saya hanya berputar-putar di jalur yang persis sama. Setiap kali saya merasa telah menemukan jalan menuju jalan utama, ujung-ujungnya motor saya selalu kembali ke titik semula. Seolah-olah ada dinding kasat mata yang membentengi tempat itu, memaksa saya terus berputar dalam keputusasaan yang melelahkan.
Tabuhan Gamelan Misterius di Tengah Hutan Karet
Di tengah kepanikan yang mulai menggerogoti akal sehat, atmosfer di sekitar saya mendadak berubah menjadi sangat berat. Angin malam mati total. Dan di tengah kesunyian mutlak hutan karet pasca-Maghrib itu, sebuah suara ganjil mulai menyusup ke telinga saya.
Sayup-sayup… lalu perlahan mendesing.
Itu adalah suara tabuhan gamelan. Alunan instrumen tradisional yang berirama magis, ganjil, dan menyayat hati. Bulu kuduk saya langsung berdiri tegak, meremang hebat sampai ke ubun-ubun. Jantung saya berdegup kencang hingga terasa sesak di dada. Pikiran saya berkecamuk hebat: Bagaimana mungkin ada orang yang menabuh gamelan selepas Maghrib di tengah hutan karet sesunyi dan sepekat ini?
Mengerikannya lagi, suara gamelan itu tidak statis. Suara itu terdengar semakin lama semakin keras, bergaung dari segala arah, seolah-olah rombongan penabuh gaib itu sedang berjalan mendekat dan mengepung posisi saya yang sedang ketakutan setengah mati.
Tubuh saya gemetar hebat. Rasanya tenaga saya sudah terkuras habis, dan saya sudah tidak sanggup lagi untuk mengendarai sepeda motor. Cekaman horor psikologis itu meremukkan keberanian saya. Berkali-kali saya mencoba menggas motor untuk memecah kepungan suara itu, namun hasilnya tetap sama: saya tetap berputar-putar dan kembali terdampar di titik semula, ditemani gaung gamelan yang kian menderu keras di telinga.
Pasrah, Doa yang Membatin, dan Terbukanya Tabir Gaib
Dalam kondisi pasrah, lemas, dan diselimuti ketakutan yang tak tertahankan, saya akhirnya berhenti. Di atas motor yang masih menyala, saya memejamkan mata erat-erat. Saya mulai berdoa dengan khusyuk, melafalkan segala doa yang saya ingat, sembari membatin dan memohon ampun atas apa pun kesalahan yang mungkin tanpa sengaja saya perbuat di tempat sakral ini. Saya berserah diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta.
Selang dua jam lamanya saya terperangkap dalam siksaan gaib itu, keajaiban mendadak terjadi. Sesaat setelah doa-doa itu meluncur dari batin, suasana mencekam itu tiba-tiba runtuh. Suara gamelan yang tadinya memekakkan telinga mendadak lenyap seketika, menyisakan keheningan malam yang normal.
Bersamaan dengan itu, pandangan saya yang tadinya seolah tertutup kabut tebal, tiba-tiba menjadi terang. Dan di depan mata, sebuah jalur lurus mendadak terbuka, menampakkan jalan utama yang sejak tadi saya cari dengan bersusah payah.
Tanpa berpikir dua kali, dengan sisa keberanian dan rasa takut yang sudah di ambang batas, saya menarik tuas gas sedalam-dalamnya. Motor saya melesat kencang, membelah kegelapan malam hingga akhirnya roda motor saya menyentuh aspal jalan utama yang ramai.
Misteri ‘Taman Buddha’ yang Tak Terpecahkan
Napas saya masih tersengal-sengal dan wajah saya pucat pasi saat berhasil menemui beberapa orang kampung yang berada di sekitar jalan utama tersebut. Dengan terbata-bata, saya menceritakan apa yang baru saja saya alami di dalam sana.
Mendengar cerita saya, raut wajah orang-orang kampung itu langsung berubah serius. Mereka mengangguk-angguk paham, seolah hal ganjil itu bukanlah sesuatu yang asing di telinga mereka.
“Di sana memang wilayah yang agak ganjil, Mas,” ujar salah seorang warga setempat dengan nada bicara yang lirih. “Titik di mana Mas tersesat, tidak menemukan jalan keluar, dan mendengar suara tabuhan gamelan itu… orang-orang di sini menyebutnya Taman Buddha.”
Mendengar jawaban itu, sekujur tubuh saya kembali merinding. Hingga hari ini, ingatan malam itu tetap menjadi misteri terbesar dalam hidup saya. Saya tidak pernah tahu kekuatan apa yang sebenarnya bersemayam di Taman Buddha, Lingkar Naga itu. Mengapa jalan bisa terhapus? Dan siapakah entitas gaib yang memainkan gamelan di tengah hutan karet kala Maghrib tiba?
Kejadian itu nyata, sebuah teror gaib yang akan selalu saya bawa seumur hidup sebagai bukti bahwa dunia tak kasat mata itu ada, nyata, dan terkadang memilih untuk menyesatkan manusia dalam kesunyiannya yang mencekam.
Karya:bhayaksa.net
